Total Tayangan

myspace hit counter

[kagama] Intisari untuk alumniUGM@googlegroups.com - 25 Pesan pada 12 Topik

Sabtu, Juli 16, 2011

Grup: http://groups.google.com/group/alumniUGM/topics

    Hari Purwanto <haripur.ir@gmail.com> Jul 16 10:48AM +0430 ^
     
    Kali bukan Agusnya yang berarti sulung, tapi Pratamanya (=pertama)
     
    2011/7/15 <andirahmah91@yahoo.com>
     
     
    --
    Hari Purwanto

     

    Hari Purwanto <haripur.ir@gmail.com> Jul 16 10:55AM +0430 ^
     
    Waktu saya masih tugas di konsultan di Bappenas, oleh MC-Indonesia disusun
    program untuk mengatasi stunting bersama Kemenkes untuk diusulkan ke MCC US.
    Mudah2an berlanjut.
     
    2011/7/15 Muhammad Ery Wijaya <erywijaya@gmail.com>
     
     
    --
    Hari Purwanto

     

 Topik: KOIN PENYOK
    andirahmah91@yahoo.com Jul 15 02:59PM ^
     
    Seorang lelaki berjalan tak tentu arah dgn rasa putus asa. Kondisi finansial keluarganya morat-marit.
     
    Saat menyusuri jalanan sepi, kakinya terantuk sesuatu. Ia membungkuk dan menggerutu kecewa. "Uh, hanya sebuah koin kuno yg sudah penyok." Meskipun begitu ia membawa koin itu ke bank.
     
    "Sebaiknya koin in dibawa ke kolektor uang kuno," kata teller itu memberi saran. Lelaki itu membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, koinnya dihargai 30 dollar.
     
    Lelaki itu begitu senang. Saat lewat toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu obral. Dia pun membeli kayu seharga 30 dollar utk membuat rak buat istrinya. Dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.
     
    Di tengah perjalanan dia melewati bengkel pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu bermutu yg dipanggul lelaki itu. Dia menawarkan lemari 100 dollar utk menukar kayu itu. Setelah setuju, dia meminjam gerobak utk membawa pulang lemari itu.
     
    Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita melihat lemari yg indah itu dan menawarnya 200 dollar. Lelaki itu ragu-ragu. Si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju dan mengembalikan gerobaknya.
     
    Saat sampai di pintu desa, dia ingin memastikan uangnya. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Tiba-tiba seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.
     
    Istrinya kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya bertanya, "Apa yg terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yg diambil oleh perampok tadi?"
     
    Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, "Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi".
     
    Demikianlah Tuhan mengatur hak-hak kita.... Bila kita sadar kita tak pernah benar2 memiliki apapun, kenapa saat kehilangan kita harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?
    Bersyukurlah..:)O:)(y).
    Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

     

    "Galuh Adi Insani" <adioranye@kagamavirtual.org> Jul 15 02:06PM ^
     
    Cerita yang bagus sekali mba Andi...
     
    -̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸Ƭhank γőυ•̸Ϟ•̸-̶̶•-
     
    Galuh Adi Insani
    -------------------------
    adioranye@ugm.ac.id

     

    andirahmah91@yahoo.com Jul 15 03:06PM ^
     
    Terima kasih, Saya copas dari grup di Pru, tapi gak ada sumbernya.
     
    Salam,
     
     
    Andi Rahmah
    Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
     
    -----Original Message-----
    From: "Galuh Adi Insani" <adioranye@kagamavirtual.org>
    Sender: alumniugm@googlegroups.com
    Date: Fri, 15 Jul 2011 14:06:26
    To: <alumniugm@googlegroups.com>
    Reply-To: alumniugm@googlegroups.com
    Subject: Re: [kagama] KOIN PENYOK
     
    Cerita yang bagus sekali mba Andi...
     
    -̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸Ƭhank γőυ•̸Ϟ•̸-̶̶•-
     
    Galuh Adi Insani
    -------------------------
    adioranye@ugm.ac.id
     
    --
    +++
    Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
    Transfer ke:
    1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
    2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
    +++

     

    "ImtiyaZ" <iim_ok@yahoo.com> Jul 15 02:15PM ^
     
    Suka sekali mbak andi..
    Pernah baca cerita ini,tp kok ya susah bgt ngejalaninya..kadang mash sering menangis dan menyesali diri kalau tdk sesuai harapan...(Halah ini msk kategori cengeng gak ya?!!!!!..xixixixi)
     
    imtiyaz (iim atau tiyaz aja)
    TPHP 02

     

    set yoko <yokondo79@yahoo.com> Jul 16 11:02AM +0800 ^
     
    Kalau ga salah dari Andrie Wongso,
     
    Setyoko
    Bekasi
     
    --- On Fri, 7/15/11, andirahmah91@yahoo.com <andirahmah91@yahoo.com> wrote:
     
    From: andirahmah91@yahoo.com <andirahmah91@yahoo.com>
    Subject: Re: [kagama] KOIN PENYOK
    To: alumniugm@googlegroups.com
    Date: Friday, July 15, 2011, 10:06 PM
     
    Terima kasih, Saya copas dari grup di Pru, tapi gak ada sumbernya.
     
    Salam,
     
     
    Andi Rahmah
    Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
     
    -----Original Message-----
    From: "Galuh Adi Insani" <adioranye@kagamavirtual.org>
    Sender: alumniugm@googlegroups.com
    Date: Fri, 15 Jul 2011 14:06:26
    To: <alumniugm@googlegroups.com>
    Reply-To: alumniugm@googlegroups.com
    Subject: Re: [kagama] KOIN PENYOK
     
    Cerita yang bagus sekali mba Andi...
     
    -̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸Ƭhank γőυ•̸Ϟ•̸-̶̶•-
     
    Galuh Adi Insani
    -------------------------
    adioranye@ugm.ac.id
     
    --
    +++
    Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
    Transfer ke:
    1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
    2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
    +++
     
    --
    +++
    Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
    Transfer ke:
    1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
    2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
    +++

     

    Zulfadli <zulfadli.sy@gmail.com> Jul 16 01:10PM +0700 ^
     
    Wah kisah yang bagus sekali Mbak.
     
    Seandainya jeli, koin kuno yang penyok saja dalam sehari bisa menghasilkan
    250 dollar.
    Laki-laki itu orang yang berpikir besar, setidaknya sejak menyusuri jalanan
    sepi tadi sampai dia selesai menjawab pertanyaan istrinya.
     
    Nice...
     
    Kalo ada kisah lainnya, sharing lagi ya Mbak, hehehe...
     
    Salam,
    Zulfadli
     
    2011/7/15 <andirahmah91@yahoo.com>
     

     

    set yoko <yokondo79@yahoo.com> Jul 16 11:08AM +0800 ^
     
    Kisah Sukses Alim Markus, Dari Lampu Teplok, Jadi Raja Panci
     
     
    Kisah Sukses Maspion
     
     
    Sebagian besar ibu rumah tangga pasti pernah memakai produk Maspion. Namun, tak banyak yang tahu bahwa nama besar Maspion berawal dari pabrik lampu teplok yang dibesarkan protolan SMP di sebuah rumah petak 4 x4.
     
    Maspion dan Alim Markus adalah dua nama yang tak terpisahkan. Orang kini mengenal Maspion sebagai salah satu kelompok usaha besar asal Jawa Timur, yang tak hanya berkutat di industri peralatan rumah tanga, namun juga menjamah perbankan, real estat, hingga properti. Sedangkan Alim Markus adalah nahkoda dibalik semua kisah sukses itu. Pria berperawakan sedang ini rela mengorbankan pendidikan dan masa kecilnya saat mulai berkiprah di dunia bisnis.
     
    Alim Markus dilahirkan 57 tahun lalu, tepatnya 24 September 1951 di sebuah rumah petak seluas 4×4 meter persegi di Jalan Kapasan Gang II nomor 22. Karena minimnya ukuran rumah, Alim Markus yang kini memimpin grup usaha yang terdiri dari 53 perusahaan itu harus hidup uyel-uyelan dengan ayah, ibu, dan ketiga adiknya. "Jika salah anggota keluarga buang air kecil, baunya langsung ke mana-mana," ujar Alim Markus sambil terkekeh saat ditemui di kantor Maspion Kembang Jepun, Surabaya, pekan lalu.
     
    Markus muda tak betah terus hidup susah. Sebagai anak tertua di keluarga, Markus bertekad merubah nasibnya dengan bekerja sekeras mungkin dan menjadi orang sukses. "Saya nekat berhenti sekolah sebelum lulus SMP, saya ingin jadi pengusaha sukses dan kuat. Karena itu saya memilih serius membantu orang tua bekerja dari jam lima pagi sampai tujuh malam," tutur pengusaha yang hingga kini menjabat ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jatim itu.
     
    Markus kemudian mengerahkan seluruh upayanya membesarkan usaha UD Logam Djawa yang didirikan ayahnya Alim Husin pada Oktober 1965, di daerah Pecindilan, Surabaya. UD Logam Djawa awalnya memproduksi lampu teplok. Alim Husin ketika itu sanggup memproduksi 300 lusin lampu teplok perhari.
     
     
     
    Kisah Sukses Maspion
     
     
    Saat Alim Markus terjun total mem­bantu bisnis sang ayah, dia ma­sih berumur belia, 15 tahun. Ketika anak seusianya memuaskan gairah anak muda, Alim Markus menjalani semua aktivitas buruh pabrik. Mulai dari ngepel lantai sampai menangani pekerjaan staf administrasi, staf keuangan, dan lain-lain. Markus juga sempat juga terlibat dalam pemasaran. Dengan sepeda pancal dia berkeliling menjajakan barang ke toko-toko di daerah Pabean dan Pasar Turi.
     
    Setelah bekerja keras lima tahun lebih, keluarga Markus mulai memetik hasil dan mulai mancapai sukses. Minat masyarakat sekitar semakin bertambah, produk dari UD Logam Djawa makin laris. Akhirnya pada 1972 didirikan Maspion yang berarti Mengajak Anda Selalu Percaya Industri Olahan Nasional. Pada tahun itu juga, Markus memiliki mobil pertamanya yakni Holden. Markus juga memboyong keluarganya dari rumah petak ke rumah cukup besar di kawasan yang lebih elit yakni di Embong Tanjung No. 5, yang dia tinggali sampai sekarang. Perusahaan pun dipindah ke daerah Gedangan, Sidoarjo. Alim Husin, yang mulai yakin terhadap kemampuan anak-anaknya, secara perlahan mulai menarik diri dari panggung. Dan sebagai putra tertua, Alim Markus muda yang ditunjuk langsung sebagai presiden direktur, sedangkan Alim Husin sebagai Chairman. Saudara kandung lainnya Alim Mulia Sastra, Alim Satria, dan Alim Prakasa masing-masing didudukan sebagai direktur pengelola.
     
    Kata kolega
     
    Sederhana tetapi berkarakter sehingga banyak orang yang segan dan menjadikannya panutan."
     
    Henry J. Gunawan, Presdir PT Surya Inti Permata Tbk
     
    Alim tetap ulet bekerja keras dengan jujur walau dulu banyak pengusaha yang memakai dana BLBI."
     
    Erlangga Satriagung, Ketua Kadin Jatim
     
    BIODATA
     
    Nama: Alim Markus
     
    Lahir: Surabaya, 24 September 1951
     
    Jabatan:Presiden Direktur Grup Maspion
     
    Orangtua:Ayah Alim Husin, Ibu Angkasa Rachmawati
     
    Istri: Sriyanti
     
    Anak:Enam Orang
     
    Saudara kandung:Alim Mulia Sastra, Alim Satria, dan Alim Prakasa
     
    Pendidikan: Kelas 3 SMP tidak selesai
     
    Anak perusahaan : 53
     
    Bidang Usaha : produk kebutuhan rumah tangga, konstruksi, material, dan industri, property, gedung perkantoran dan mal, dan jasa keuangan
     
    Karyawan : 30.000 orang
     
    Sumber : jawapos

     

    fajarsgama@gmail.com Jul 16 05:51AM ^
     
    Sedikit menanggapi, salah satu sifat pengusaha yg kurang disukai adalah merendahkan karyawan. Antara th 2000 sampai th 2006 karyawan Maspion paling rajin berdemo, karena jumlahnya puluhan ribu setiap berdemo mrk bisa melumpuhkan lalu lintas Surabaya-Gresik-Sidoarjo. Tuntutan mrk cukup realistis krn mrk digaji masih dibawah UMR sementara perusahaan terus maju berkembang.
     
    Mulai th 2007 sdh sepi demo karyawan Maspion lagi , itu krn terjadi PHK massal & manajemen Maspion berganti menggunakan karyawan outsourcing. Mantan karyawan boleh mendaftar di perusahaan partner outsourcing. Jumlah karyawan Maspion saat ini tdk kurang dr 1.000 saja.
     
    Nasib jadi karyawan outsourcing jauh lbh mengenaskan krn tdk ada jaminan lagi dr Maspion soal kesejahteraan, asuransi kesehatan, dana pensiun, dsb. Kontrak kerja hanya tiap 6 bln, sewaktu2 dpt dipecat dg alasan kinerja buruk ϑǻπ mengambil tenaga baru dr outsourcing lain & seterusnya.
     
    Nah saya disini yang kurang sreg dg gaya manajemen Maspion thd karyawan. Kalau perusahaan yang beradab tentu mau menghargai & memanusiakan para karyawannya.
     
    Fajar di Surabaya.
     
     
    -----Original Message-----
    From: set yoko <yokondo79@yahoo.com>
    Sender: alumniugm@googlegroups.com
    Date: Sat, 16 Jul 2011 11:08:46
    To: <alumniugm@googlegroups.com>
    Reply-To: alumniugm@googlegroups.com
    Subject: [kagama] Kisah Sukses Maspion
     
     
    Kisah Sukses Alim Markus, Dari Lampu Teplok, Jadi Raja Panci
     
     
    Kisah Sukses Maspion
     
     
    Sebagian besar ibu rumah tangga pasti pernah memakai produk Maspion. Namun, tak banyak yang tahu bahwa nama besar Maspion berawal dari pabrik lampu teplok yang dibesarkan protolan SMP di sebuah rumah petak 4 x4.
     
    Maspion dan Alim Markus adalah dua nama yang tak terpisahkan. Orang kini mengenal Maspion sebagai salah satu kelompok usaha besar asal Jawa Timur, yang tak hanya berkutat di industri peralatan rumah tanga, namun juga menjamah perbankan, real estat, hingga properti. Sedangkan Alim Markus adalah nahkoda dibalik semua kisah sukses itu. Pria berperawakan sedang ini rela mengorbankan pendidikan dan masa kecilnya saat mulai berkiprah di dunia bisnis.
     
    Alim Markus dilahirkan 57 tahun lalu, tepatnya 24 September 1951 di sebuah rumah petak seluas 4×4 meter persegi di Jalan Kapasan Gang II nomor 22. Karena minimnya ukuran rumah, Alim Markus yang kini memimpin grup usaha yang terdiri dari 53 perusahaan itu harus hidup uyel-uyelan dengan ayah, ibu, dan ketiga adiknya. "Jika salah anggota keluarga buang air kecil, baunya langsung ke mana-mana," ujar Alim Markus sambil terkekeh saat ditemui di kantor Maspion Kembang Jepun, Surabaya, pekan lalu.
     
    Markus muda tak betah terus hidup susah. Sebagai anak tertua di keluarga, Markus bertekad merubah nasibnya dengan bekerja sekeras mungkin dan menjadi orang sukses. "Saya nekat berhenti sekolah sebelum lulus SMP, saya ingin jadi pengusaha sukses dan kuat. Karena itu saya memilih serius membantu orang tua bekerja dari jam lima pagi sampai tujuh malam," tutur pengusaha yang hingga kini menjabat ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jatim itu.
     
    Markus kemudian mengerahkan seluruh upayanya membesarkan usaha UD Logam Djawa yang didirikan ayahnya Alim Husin pada Oktober 1965, di daerah Pecindilan, Surabaya. UD Logam Djawa awalnya memproduksi lampu teplok. Alim Husin ketika itu sanggup memproduksi 300 lusin lampu teplok perhari.
     
     
     
    Kisah Sukses Maspion
     
     
    Saat Alim Markus terjun total mem­bantu bisnis sang ayah, dia ma­sih berumur belia, 15 tahun. Ketika anak seusianya memuaskan gairah anak muda, Alim Markus menjalani semua aktivitas buruh pabrik. Mulai dari ngepel lantai sampai menangani pekerjaan staf administrasi, staf keuangan, dan lain-lain. Markus juga sempat juga terlibat dalam pemasaran. Dengan sepeda pancal dia berkeliling menjajakan barang ke toko-toko di daerah Pabean dan Pasar Turi.
     
    Setelah bekerja keras lima tahun lebih, keluarga Markus mulai memetik hasil dan mulai mancapai sukses. Minat masyarakat sekitar semakin bertambah, produk dari UD Logam Djawa makin laris. Akhirnya pada 1972 didirikan Maspion yang berarti Mengajak Anda Selalu Percaya Industri Olahan Nasional. Pada tahun itu juga, Markus memiliki mobil pertamanya yakni Holden. Markus juga memboyong keluarganya dari rumah petak ke rumah cukup besar di kawasan yang lebih elit yakni di Embong Tanjung No. 5, yang dia tinggali sampai sekarang. Perusahaan pun dipindah ke daerah Gedangan, Sidoarjo. Alim Husin, yang mulai yakin terhadap kemampuan anak-anaknya, secara perlahan mulai menarik diri dari panggung. Dan sebagai putra tertua, Alim Markus muda yang ditunjuk langsung sebagai presiden direktur, sedangkan Alim Husin sebagai Chairman. Saudara kandung lainnya Alim Mulia Sastra, Alim Satria, dan Alim Prakasa masing-masing didudukan sebagai direktur pengelola.
     
    Kata kolega
     
    Sederhana tetapi berkarakter sehingga banyak orang yang segan dan menjadikannya panutan."
     
    Henry J. Gunawan, Presdir PT Surya Inti Permata Tbk
     
    Alim tetap ulet bekerja keras dengan jujur walau dulu banyak pengusaha yang memakai dana BLBI."
     
    Erlangga Satriagung, Ketua Kadin Jatim
     
    BIODATA
     
    Nama: Alim Markus
     
    Lahir: Surabaya, 24 September 1951
     
    Jabatan:Presiden Direktur Grup Maspion
     
    Orangtua:Ayah Alim Husin, Ibu Angkasa Rachmawati
     
    Istri: Sriyanti
     
    Anak:Enam Orang
     
    Saudara kandung:Alim Mulia Sastra, Alim Satria, dan Alim Prakasa
     
    Pendidikan: Kelas 3 SMP tidak selesai
     
    Anak perusahaan : 53
     
    Bidang Usaha : produk kebutuhan rumah tangga, konstruksi, material, dan industri, property, gedung perkantoran dan mal, dan jasa keuangan
     
    Karyawan : 30.000 orang
     
    Sumber : jawapos
     
    --
    +++
    Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
    Transfer ke:
    1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
    2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
    +++

     

    rsulastama@gmail.com Jul 16 01:17AM ^
     
    UGM Bebaskan SPP 66 Calon Mahasiswa Baru Fakultas Kedokteran
    TEMPO Interaktif, YOGYAKARTA - Universitas Gadjah Mada membebaskan biaya Sumbangan Pengembangan Potensi Akademik kepada 66 mahasiswa baru  Fakultas Kedokteran. Dari 200-an mahasiswa yang diterima, hanya 33 orang yang membayar penuh uang sumbangan SPMA yang besarnya Rp 100 juta.
     
    »Yang membayar penuh hanya 33 dari 200-an mahasiswa FK yang diterima," kata Kepala Humas dan Protokoler UGM Suryo Baskoro kepada Tempo, Jumat, 15 Juli 2011.
     
    Uang SPMA mahasiswa Fakultas Kedokteran UGM merupakan yang tertinggi di bandingkan fakultas lain. Rata-rata fakultas sosial memungut biaya SPMA antara Rp 20 juta-Rp 50 juta.
     
    Meski begitu, uang SPMA tidak mutlak dibayarkan oleh mahasiswa. Melalui informasi yang mereka berikan dengan melihat riwayat penghasilan orangtua, besaran beban SPMA disesuaikan dengan kondisi mahasiswa tersebut.
     
    Direktur Keuangan UGM Haryono menambahkan penjelasan biaya dengan rinci. Dari 200-an mahasiswa FK, ada 66 mahasiswa yang dibebaskan membayar biaya karena memenuhi kualifikasi. »Sisanya antara 10 juta sampai 20 juta," kata Haryono. Adapun yang membayar penuh sebesar Rp 100 juta hanya 33 mahasiswa saja.
     
    Haryono mengatakan, subsidi silang memang diterapkan di kampus UGM. Apalagi, Rektor UGM Sudjarwadi meminta tidak boleh ada mahasiswa yang tidak memiliki uang tidak bisa kuliah di UGM. »Karena itu kami benar-benar menerapkan subsidi silang," katanya.
     
    UGM menerapkan tiga komponen biaya bagi mahasiswanya. Pertama SPMA, biaya SPP, dan biaya operasional pendidikan. Untuk biaya satu semester, mahasiswa dipungut Rp 500 ribu per satu semester. Sementara untuk biaya BOP nya Rp 75 ribu untuk satu SKS ditambah biaya asuransi kesehatan Rp 300 ribu.
     
    Suryo mengatakan Fakultas kedokteran merupakan fakultas yang paling diminati calon mahasiswa se-Indonesia. Ada sekitar 7000 pendaftar pada SNMPTN beberapa waktu lalu. »Jumlah peminat untuk Fakultas Kedokteran tertinggi peminatnya," ujarnya.
     
    UGM sebagai PTN pilihan pertama karena menawarkan biaya pendidikan yang lebih murah ketimbang sejumlah PTN lain, seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Diponegoro. Sebagai perbandingan, biaya masuk di Fakultas Kedokteran di UI lebih dari Rp 500 juta dan Rp 300 juta di Universitas Diponegoro. »Silahkan bandingkan sendiri, UGM masih PTN termurah," kata Suryo.
     
    BERNADA RURIT
    http://m.tempointeraktif.com/2011/07/15/346765/
    Powered by salakpondohmania®

     

    "Galuh Adi Insani" <adioranye@kagamavirtual.org> Jul 16 05:36AM ^
     
    Serem mas kalau harus bayar 500juta... Jadi takut berobat sama dokter yang kuliahnya disitu, soalnya pasti punya keinginan untuk balik modal dikemudian hari. Hehehehe....
     
    -̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸Ƭhank γőυ•̸Ϟ•̸-̶̶•-
     
    Galuh Adi Insani
    -------------------------
    adioranye@ugm.ac.id

     

    dianagungwicaksono@yahoo.com Jul 16 05:12AM ^
     
    Unsubscribe
    Sent from BlackBerry® on 3

     

    set yoko <yokondo79@yahoo.com> Jul 16 11:00AM +0800 ^
     
    Dear Mba/Mas semua...
     
    mau tanya ada ga lembaga/perusahaan yang mengadakan training/pelatihan untuk menjadi agen property independen,
    tidak harus terikat bekerja pada tempat tersebut?
     
    Kalau ada dimana terutama dijakarta/bekasi?
     
    terimakasih informasinya,
     
    Setyoko

     

    rsulastama@gmail.com Jul 16 01:11AM ^
     
    40 Tahun "Mewayangkan" Jepang
    Oleh Ardus M Sawega
     
    Praktis selama 40 tahun terakhir hidup Ryoh Matsumoto didedikasikan pada dunia wayang. Banyak hasil penelitiannya tentang wayang, berupa pengetahuan maupun cerita yang diterbitkan di Jepang, di samping mementaskan wayang. Perjuangannya seperti tak kenal lelah. "Baru 40 tahun, belum 100 tahun," katanya. 
     
    Ucapan pria Jepang itu disampaikan usai pentas wayangnya, "Raksasa dan Gadis Cantik", di Pendapa Prangwedanan, Pura Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, awal Juli lalu. Ungkapan itu seperti menyiratkan semangat yang terus menyala untuk memasyarakatkan wayang di Jepang. Di negerinya, ia mendalang wayang kulit purwa diiringi kaset dan mengajarkannya kepada warga yang berminat.
     
    Perkenalannya dengan wayang terjadi tahun 1968 saat dia, sebagai turis, menyaksikan pertunjukan wayang kulit di desa dekat Candi Prambanan, Jawa Tengah. "Waktu itu, saya tak terlalu terkesan, dalangnya tidak bagus. Saya menonton hanya dua jam. Tetapi pertunjukan kelihatannya ramai, dan anehnya penonton betah menyaksikannya," tuturnya.
     
    Ketakjuban akan tradisi wayang di Jawa itu mendorong Matsumoto untuk lebih tahu tentang kesenian yang diperkirakan muncul sejak abad ke-10 itu. Penelitiannya di Angkor Wat, Kamboja (1966), membawa dia ke Jawa dan menemukan tradisi wayang yang mengakar di masyarakat. Hal yang tak dia temukan pada budaya masyarakat di Angkor Wat.
     
    "Saya penasaran, kenapa orang mau menonton pertunjukan wayang kulit padahal hanya diiringi gamelan yang terkesan seadanya? Mereka juga bertahan sampai pagi," katanya.
     
    Susastra
     
    Ia mendapati dalam wayang terkandung sejarah, filsafat, ajaran moral, dan kearifan bangsa ini. Selain itu, pada pertunjukan wayang yang dilakukan dalang tertentu, seperti Ki Nartosabdho dan Ki Sutino, keduanya sudah almarhum, menyiratkan nilai sastra tinggi yang menyentuh kalbunya.
     
    "Dalam pedalangan Ki Nartosabdho atau Ki Sutino, terasa betul bobot susastranya, di samping ekspresi pedalangannya. Ki Narto juga kuat imajinasinya. Ini tak saya temukan pada dalang-dalang sekarang yang umumnya membaca naskah (saat mendalang)."
     
    Matsumoto menilai, kehebatan wayang di Jawa pada aspek susastra dan kedalaman bahasa, di samping filsafatnya. "Saya kira wayang bisa bertahan hingga kini karena nilai susastra serta filsafatnya," ujarnya.
     
    Ia mengapresiasi wayang dari aspek kesusastraan karena dirinya seorang penyair. Matsumoto menulis puisi modern sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama, dan bersama penyair Jepang, Mitsuharu Kaneko, menerbitkan majalah sastra Ainame.
     
    Sekalipun penguasaannya atas bahasa Jawa sebatas memahami jalan cerita, namun ia bisa mengapresiasi nilai-nilai susastra dalam pakeliran wayang. Ia belajar bahasa Jawa kepada Ibu Mustam di Yogyakarta. Ketika mulai belajar wayang, ia kesulitan sebab pada awal 1970-an buku tentang wayang amat sedikit dan kebanyakan berbahasa Indonesia.    
     
    Dia meyakini, bahasa Jawa yang menjadi media pertunjukan wayang merupakan aspek penting dalam kebudayaan Jawa. Ia membandingkan bahasa Jawa dengan bahasa Jepang yang bertingkat-tingkat dan masing-masing memiliki kerumitan tersendiri.
     
    "Susastra Jawa punya keindahan yang khas. Bahasa Jawa dalam wayang tak tergantikan dan tak bisa diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, karena bahasa Indonesia bukan bahasa budaya. Di balik bahasa adalah eksistensi budaya suatu bangsa. Bahasa merupakan bagian proses sejarah kebudayaan suatu bangsa," katanya.
     
    Penelitiannya menyimpulkan, wayang mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Dalam kurun ratusan tahun, pertunjukan wayang di Jawa tak lagi seperti "aslinya". Dari candi Hindu di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang menampilkan kisah pewayangan, tinggal wayang dari Bali yang memperlihatkan jejak kemiripan.
     
    Ia juga mengapresiasi keindahan iringan karawitan. Ia mengutip pernyataan sejumlah dalang yang menyebutkan, "Dalam gamelan mengalir darah orang Jawa, atau darah orang Jawa mengalir dalam gamelan."
     
    Kekuatan budaya
     
    Matsumoto mengakui, wayang merupakan karya imajinasi yang luar biasa. Selain memantulkan filsafat dan kearifan lokal, di dalamnya tersimpan ajaran moral dan nilai spiritualisme. Wayang merefleksikan sekaligus wahana yang menginspirasi orang Jawa dalam mengolah spiritualisme.
     
    Ia pernah tertarik belajar kebatinan Jawa, yang sedikit banyak terpantul lewat wayang. Tapi, seorang budayawan di Solo menganjurkan dia tak belajar kebatinan secara khusus karena wayang juga memuat ajaran kebatinan. "Sebenarnya wayang itu 'menakutkan', kita tak bisa bicara sembarangan tentangnya."
     
    Dalam pandangan Matsumoto, lewat ikon wayang, kebudayaan Indonesia tergolong kuat, daya tariknya hebat. "Wayang punya kontribusi yang bisa diandalkan bagi kebudayaan Indonesia di masa depan karena wayang punya akar kuat. Ini modal bagi kebudayaan Indonesia untuk mendunia," kata Matsumoto.
     
    Kebudayaan, lanjutnya, seakan kalah oleh hegemoni ekonomi, sementara ekonomi dan industri kalah dihadapkan pada perang. Ia meyakini, hanya kebudayaan yang bisa menghadapi perang karena kebudayaan menimbulkan kedamaian.
     
    "Kebudayaan harus dipertahankan di lingkungan masing-masing. Dikembangkan secara damai, dan diupayakan terus untuk menyebarkannya," ujarnya.
     
    Otodidak
     
    Matsumoto adalah tipikal bangsa Jepang yang tekun, tak kenal menyerah, dan penuh dedikasi, terutama pada wayang. Sekalipun banyak mengenal dalang wayang, ia belajar sendiri cara mendalang, termasuk mendalami cerita wayang yang tak terbilang banyaknya.
     
    Sejak 1968, ia mengoleksi lebih dari 1.500 wayang kulit. Ia hafal nama 600 tokoh wayang purwa. Dari jumlah 1.500 wayang itu, separuhnya disimpan di Istana Wayang Koleksi Ryoh Matsumoto, di rumahnya di daerah Kamikitazawa, Setagayaka-ku, Tokyo. Selebihnya, disimpan di Tokyo Kasei Daigoku.
     
    Setelah pensiun sebagai editor majalah Taiyo pada 1983, Matsumoto menetap di Kota Solo setahun untuk belajar wayang dan kebudayaan Jawa. Ia aktif mementaskan wayang kulit purwa di Jepang. Caranya, lewat mixing dengan iringan kaset rekaman Ki Nartosabdho misalnya, ia mendalang dalam bahasa Jepang, berdurasi 2-3 jam.
     
    Selain mementaskan wayang purwa, ia juga membuat lakon kreasi baru. Sejak 1989, ada tujuh lakon karyanya yang pernah digelar di Indonesia, yaitu "Limbuk pada Malam Purnama", "Limbuk Mencari Tirta Amerta", "Samudera-Samudera", "Jaka Tarub", "Menuju ke Istana Bayangan", Puteri Jadi-jadian", dan "Raksasa dan Gadis Cantik".
     
    Ia tak tertarik mengangkat kisah dari mitologi Jepang, karena mitologi itu lebih berkisah tentang dewa dan berkaitan dengan peperangan. Pasca-Perang Dunia II, bangsa Jepang cenderung antidewa karena dewa identik dengan perang.
     
    (Ardus M Sawega, wartawan di Solo)
     
     
    http://m.kompas.com/cetak/cread/2011/07/16/02414816/40-tahun-mewayangkan-jepang
    Powered by salakpondohmania®

     

    Hari Purwanto <haripur.ir@gmail.com> Jul 16 09:33AM +0430 ^
     
    Apa masyarakat Jawa sekarang masih seperti yang diungkapkan itu ya? Jangan2
    kita nanti belajar wayang harus ke Jepang.
    Waktu saya masih SD (dulu SR) masih seneng nonton sampai pagi, tapi tidak
    sekarang.
     
     
    2011/7/16 <rsulastama@gmail.com>
     
     
    --
    Hari Purwanto

     

 Topik: teladan
    nugroho rahmat <nugrahmat@kagamavirtual.net> Jul 16 07:49AM +0700 ^
     
    Politisi teladan,
     
    kapan mbak Andi Rahmah spt ini ya?>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
    N Rahmat
    Jejak Teladan Alm Yoyoh Yusroh, Politisi Perempuan PKS[image:
    Republika]<http://www.republika.co.id/>
    Republika – 2 jam 14 menit lalu
     
    -
    - tweet<http://id.berita.yahoo.com/_xhr/social/share/?url=http%3A%2F%2Fid.berita.yahoo.com%2Fjejak-teladan-alm-yoyoh-yusroh-politisi-perempuan-pks-024603987.html&text=Jejak%20Teladan%20Alm%20Yoyoh%20Yusroh%2C%20Politisi%20Perempuan%20PKS%20-%20Yahoo%21%20News&via=yahoo_id&counturl=http%3A%2F%2Fid.berita.yahoo.com%2Fjejak-teladan-alm-yoyoh-yusroh-politisi-perempuan-pks-024603987.html&lang=id&action=retweet>
    7<http://twitter.com/search?q=http%3A%2F%2Fid.berita.yahoo.com%2Fjejak-teladan-alm-yoyoh-yusroh-politisi-perempuan-pks-024603987.html>
    - Email<http://mtf.news.yahoo.com/mailto/?prop=news&locale=id&url=http%3A%2F%2Fid.berita.yahoo.com%2Fjejak-teladan-alm-yoyoh-yusroh-politisi-perempuan-pks-024603987.html&title=Jejak%20Teladan%20Alm%20Yoyoh%20Yusroh%2C%20Politisi%20Perempuan%20PKS%20-%20Yahoo%21%20News>
    - Cetak
     
    Konten Terkait
     
    - [image: Yoyoh Yusroh]Perbesar
    Foto<http://id.berita.yahoo.com/foto/dalam-satu-rombongan-hanya-yoyoh-yang-meninggal-foto-043030297.html>
     
    Yoyoh Yusroh
     
    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Tidak banyak perempuan Indonesia yang paham dan
    sadar bahwa dunia politik adalah dunia yang setara milik kaum laki-laki dan
    perempuan. Seringkali, dunia politik justru dianggap sebagai dunia keras
    milik laki-laki, karena politik selama ini identik dengan perebutan
    kekuasaan.
     
    Padahal, perempuan juga memiliki kepentingan-kepentingan tertentu yang belum
    tentu dapat diwakili oleh laki-laki. Persepsi negatif itulah yang ditepis
    almarhumah Yoyoh Yusroh, seorang politisi perempuan dari Partai Keadilan
    Sejahtera (PKS) yang wafat karena kecelakaan pada 27 April 2011 lalu.
     
    Kiprah wanita yang akrab disapa Ustadzah itu di parlemen menunjukkan kepada
    publik bahwa perempuan juga mampu menjalankan amanah politik dengan baik.
    Menurut dia, memisahkan perempuan dari politik sama dengan memisahkan
    masyarakat dari lingkungannya.
     
    Kiprah Ustadzah Yoyoh, sebagai poltisi perempuan, di wilayah publik juga
    diapresiasi banyak pihak, baik rekan maupun lawan politik. Dalam pembahasan
    RUU Pornografi misalnya, Ustadzah Yoyoh adalah salah seorang legislator yang
    gigih untuk terus memperjuangkannya, semata-mata untuk kebaikan masyarakat
    Indonesia.
     
    Melalui kesabaran dan kegigihannya, akhirnya UU Pornografi bisa disahkan.
    Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq mencatat bahwa banyak orang yang hanya
    dengan mendengar profilnya saja dan tidak pernah bertemu, sudah
    terkagum-kagum. Apalagi, lanjut Luthfi, jika sudah mengikuti jejak langkah
    kesehariannya.
     
    "Saya tidak tahu apakah ke depan PKS akan dikaruniai lagi oleh Allah SWT
    seorang kader seperti beliau. Apakah PKS mampu mencetak kembali kader baru
    yang kapasitas dan kualitasnya sekaliber Yoyoh Yusroh," ujarnya seperti
    dikutip dalam kata pengantar Buku 'Ustadzah Yoyoh: Langkah Cinta Untuk
    Indonesia'.
     
    Hal itu juga disampaikan Ketua Fraksi PKS DPR RI Mustafa Kamal. Menurut dia,
    Ustadzah Yoyoh adalah sosok yang dengan naluri keibuannya, justru menjadikan
    politik menjadi tentram, serta tidak selau alot dan pelik.
     
    "Sosok keibuan tetap hadir dalam peran publiknya. Suatu hal yang patut
    mendapat perenungan yang mendalam bagi para aktifis perempuan dalam politik
    maupun pergerakan pada umumnya," ujarnya.
     
    Selain di bidang politik, Ustadzah Yoyoh juga aktif dalam berbagai kegiatan
    kemasyarakatan dan dakwah. Kiprahnya di dunia dakwah diapresiasi oleh
    Departemen Agama dengan memberinya penghargaan sebagai Mubaligh Nasional
    pada tahun 2001.
     
    Tidak hanya di tingkat nasional, dia kemudian juga turut menjadi anggota
    Internasional Muslim Women Union (IMWU) sebagai salah satu wadah perjuangan
    bagi muslimah sedunia.
    Dalam pandangan Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddik, Yoyoh Yusroh adalah
    sosok yang sangat peduli dengan isu-isu internasional, terutama perjuangan
    kemerdekaan Palestina.
     
    Menurut Mahfudz, Yoyoh selalu aktif dalam mengkampanyekan perjuangan
    kemerdekaan Palestina, tidak hanya dengan pendekatan agama, tapi juga
    pendekatan Humanis.
     
    "Isu mengenai negara-negara muslim yang sedang konflik, beliau nyaris tidak
    pernah mengangkat dari dimensi politik, yang justru membuat orang berdebat.
    Tapi, yang justru diangkat adalah sisi kemanusiaan yang akhirnya orang
    cenderung bersepakat," ujarnya.
     
    Kolega politisi perempuan Ustadzah Yoyoh juga memiliki pengalaman yang tidak
    terlupakan dengannya.
     
    Dalam pandangan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
    Linda Gumelar, Yoyoh Yusroh adalah politisi yang tetap konsisten dalam
    tugas-tugasnya, baik sebagai seorang Ibu dari 13 orang anak, maupun sebagai
    politisi yang terlibat aktif dalam pengambilan kebijakan di wilayah publik.
     
    "Semua peran itu (rumah tangga dan politisi) bisa dilakukan dengan baik oleh
    beliau. Apalagi, Ibu Yoyoh juga sangat aktif dalam peran-peran pemberdayaan
    perempuan di masyarakat, demikian testimoni Ibu Linda Gumelar dalam Buku
    'Langkah Cinta Untuk Indonesia'.
     
    Sementara seorang politisi perempuan muda di DPR, Rachel Maryam juga
    mengagumi sosok Ustadzah Yoyoh. Menurutnya, kemampuan Ustadzah untuk membagi
    waktu untuk 13 anaknya, suami dan urusan publik menjadi teladan bagi para
    politisi muda.
     
    Apalagi mengingat, anak-anak almarhuman juga adalah anak-anak yang
    berprestasi. Hal ini tentu saja tidak lepas dari didikan yang bersangkutan.
     
    Menurut Rachel, sosok keibuan itulah yang membuat Yoyoh bisa dekat dengan
    semua kalangan.
    "Saya kenal sosok beliau adalah sebagai orang yang sabar, sangat bersahaja
    dan keibuan. Mungkin karena beliau adalah ibu dari banyak anak, maka beliau
    menjadi sangat merangkul," ungkap Rachel.
     
    Kini, Ustadzah Yoyoh Yusroh sudah dipanggil kembali oleh Allah SWT. Ibu dari
    13 orang anak sekaligus politisi senior PKS itu tetap menjadi panutan bagi
    setiap aktifis untuk terus berjuang, tanpa mengeluhkan hambatan-hambatan.
     
    Kepiawaiannya memadukan urusan keluarga, dakwah, dan politik sungguh patut
    menjadi menjadi motivasi bagi para aktifis perempuan untuk terlibat aktif
    dalam dunia politik dan kebijakan publik. Seperti kata almarhumah,
    "Memisahkan perempuan dari politik, sama saja memisahkan masyarakat dari
    lingkungannya."

     

    rsulastama@gmail.com Jul 16 12:44AM ^
     
    Universitas Kerakyatan
    Oleh Agus Suwignyo
     
    Berbeda dengan universitas di Eropa yang kelahirannya bersifat top-down dan cenderung elitis, universitas yang dikelola pemerintah di Indonesia lahir dari penderitaan dan perjuangan rakyat. Sayangnya, perkembangan universitas negeri di Indonesia hari demi hari kian menjauh dari kalbu kerakyatan dan keberpihakan kepada rakyat sebagai amanah hakiki keberadaannya.
     
    Universitas di Eropa mewarisi tradisi universitas Katolik yang lahir dari jantung Gereja. Universitas didirikan karena inisiatif hierarkis demi kemaslahatan bersama warga dan mencerminkan pandangan teologis "Allah yang turun ke bumi". Maka, tak jarang universitas merupakan hadiah raja kepada rakyat dengan misi menghadirkan suar kebenaran (gaudium de veritate) melalui pendidikan dan penelitian.
     
    Universitas di Indonesia lahir dari jantung perjuangan rakyat (warga) melawan kesewenang-wenangan struktur hierarkis negara yang abai terhadap kemaslahatan bersama. Ia antitesis pergolakan sosial-politik akibat kolonialisme awal abad ke-20 yang berpuncak pada Perang Dunia II dan revolusi 1945-1949.
     
    Universitas-universitas di Indonesia disemati predikat agung "universitas kerakyatan" karena sejarah keberpihakan nyata kepada rakyat. Kehadirannya menyimbolkan kerinduan akan pengetahuan, kesetaraan, dan kemandirian dalam pendidikan. Oleh karena itu, universitas di Indonesia tidak hanya mengemban misi menyejahterakan rakyat, tetapi juga tanggung jawab historis untuk selalu berada di tengah rakyat, merespons dinamika dan memahami persoalan mereka.
     
    Tafsir kerakyatan
     
    Meskipun demikian, tafsir makna "kerakyatan" pada predikat eksistensial-historis universitas telah menghadirkan paradoks dalam praktik penyelenggaraan pendidikan tinggi. Kritik yang telah lama dilontarkan adalah biaya kuliah semakin mahal. Dicabutnya UU Nomor 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan dan diterapkannya kembali model seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (PTN) terbukti tak melebarkan akses massa-rakyat atas layanan pendidikan.
     
    Pengamatan menunjukkan, dana sumbangan pendidikan di beberapa jurusan sosial PTN tahun 2011 mencapai sekitar lima kali biaya masuk jurusan yang sama pada sejumlah perguruan tinggi swasta (PTS) berakreditasi A. Seperti diberitakan Kompas (11/7/2011), banyak orangtua terkejut menerima fakta (masih) mahalnya biaya kuliah di PTN. Beberapa calon mahasiswa yang telah lolos seleksi membatalkan kesempatan kuliah di PTN dan memilih PTS yang biayanya terjangkau.
     
    Hal ini amat ironis, pertama, karena anggaran pendidikan nasional terus ditambah dan sebagian besar dialokasikan untuk lembaga pendidikan negeri. Penambahan anggaran itu tampaknya tak menurunkan biaya masuk PTN yang harus ditanggung orangtua mahasiswa.
     
    Kedua, biaya mahal dan anggaran besar PTN tak otomatis berdampak pada ketersediaan infrastruktur dan atmosfer kampus yang kondusif bagi proses pendidikan. Antara 2006 dan 2007, saya mengunjungi kampus sejumlah PTN besar di Jawa dan Sumatera serta menemukan kondisi kumuh yang merata di kampus-kampus itu.
     
    Kampus PTN umumnya sangat terbuka secara fisik dalam arti sebenarnya. Tak hanya dosen, mahasiswa, dan pegawai, pedagang asongan, pengemis, dan pengamen juga bebas masuk-keluar, bahkan hingga ke ruang sekretariat jurusan. Saya hampir tak dapat membedakan sebuah kampus PTN di Jakarta dengan Pasar Minggu karena sama-sama riuh dengan aktivitas transaksi orang-orang beraneka profesi.
     
    Infrastruktur kampus PTN cenderung tidak terawat meskipun gedung dan bangunan diperbarui secara periodik. Debu di jendela dan lantai kelas yang kusam menandakan pemeliharaan rutin yang tak tuntas. Banyak lorong dan ruangan gelap karena bola lampu tak terpasang. WC kampus PTN umumnya berbau menyengat dengan kerak kuning melekat di porselen kloset dan air tak mengalir. Di Padang, saya menemukan WC kampus dengan bak air besar yang aroma, bentuk, dan kondisinya hampir sama dengan tempat penampungan ikan di Pantai Depok, Bantul, DI Yogyakarta.
     
    Kondisi kumuh kampus-kampus tersebut adalah paradoks universitas kerakyatan. Sejauh menyangkut infrastruktur dan standar kebersihan, konsep universitas kerakyatan ditafsirkan sebagai "apa adanya". "Rakyat" diidentikkan dengan hal-hal kumuh dan murahan.
     
    Secara fisik, kampus-kampus PTN mudah dimasuki siapa saja, termasuk pengamen dan pedagang asongan yang berpotensi mengganggu proses belajar-mengajar. Di sini, kampus kerakyatan berarti kampus untuk semua golongan rakyat, termasuk rakyat kecil!
     
    Namun, secara akademik, kampus-kampus PTN hanya dapat diakses golongan kelas menengah ke atas. Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengakui, sampai 2011 hanya 6 persen mahasiswa PTN dari golongan ekonomi lemah (Kompas, 11/7/2011). Artinya, kendati secara fisik dapat diakses siapa pun serta kumuh dan terkesan murahan karena hiruk-pikuk aneka aktivitas keseharian, secara struktural-sistemis kampus-kampus PTN adalah kampus elite yang sama sekali tak murah.
     
    Perubahan sistemis
     
    Inilah paradoks universitas kerakyatan yang ingkar dari sejarah adanya. Rakyat sebagai subyek pajak berhak mempertanyakan penggunaan anggaran negara dalam pengelolaan PTN. Orangtua mahasiswa berhak menuntut penjelasan atas beban biaya kuliah dengan membandingkan kondisi fisik infrastruktur kampus dan atmosfer belajarnya.
     
    Pemberian beasiswa pemerintah untuk anak-anak dari keluarga berekonomi lemah baik maksudnya. Namun, kebijakan ini lebih bersifat filantropis. Jauh lebih baik jika perubahan dilakukan secara sistemis dan struktural agar biaya kuliah di PTN terjangkau sebagian besar warga negara kendati tanpa beasiswa. Anggaran pendidikan nasional yang terus meningkat memungkinkan perubahan ini jika alokasi dan manajemen anggaran dilakukan dengan tepat dan akurat.
     
    Sembari mengejar ambisi internasionalisasi pendidikan tinggi, ada baiknya para pengelola PTN membenahi hal-hal fisik dan mendasar, khususnya menyangkut pemeliharaan dan standar kebersihan/kesehatan kampus. Dalam hal ini, manajemen sejumlah PTS dan "rasa memiliki" warganya relatif lebih baik. Tak ada salahnya etos kerja dan manajemen PTS yang baik itu diadopsi PTN.
     
    Agus Suwignyo Pedagog cum Sejarawan Pendidikan Fakultas Ilmu Budaya UGM
     
    http://m.kompas.com/cetak/cread/2011/07/16/02585182/universitas-kerakyatan
    Powered by salakpondohmania®

     

    "Agus Supriyanto G" <adjusga@yahoo.com> Jul 16 12:50AM ^
     
    Rrr
    Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
     
    -----Original Message-----
    From: rsulastama@gmail.com
    Sender: alumniugm@googlegroups.com
    Date: Sat, 16 Jul 2011 00:44:57
    To: alumniUGM<alumniugm@googlegroups.com>
    Reply-To: alumniugm@googlegroups.com
    Subject: [kagama] Apakah UGM masih Universitas Kerakyatan?
     
    Universitas Kerakyatan
    Oleh Agus Suwignyo
     
    Berbeda dengan universitas di Eropa yang kelahirannya bersifat top-down dan cenderung elitis, universitas yang dikelola pemerintah di Indonesia lahir dari penderitaan dan perjuangan rakyat. Sayangnya, perkembangan universitas negeri di Indonesia hari demi hari kian menjauh dari kalbu kerakyatan dan keberpihakan kepada rakyat sebagai amanah hakiki keberadaannya.
     
    Universitas di Eropa mewarisi tradisi universitas Katolik yang lahir dari jantung Gereja. Universitas didirikan karena inisiatif hierarkis demi kemaslahatan bersama warga dan mencerminkan pandangan teologis "Allah yang turun ke bumi". Maka, tak jarang universitas merupakan hadiah raja kepada rakyat dengan misi menghadirkan suar kebenaran (gaudium de veritate) melalui pendidikan dan penelitian.
     
    Universitas di Indonesia lahir dari jantung perjuangan rakyat (warga) melawan kesewenang-wenangan struktur hierarkis negara yang abai terhadap kemaslahatan bersama. Ia antitesis pergolakan sosial-politik akibat kolonialisme awal abad ke-20 yang berpuncak pada Perang Dunia II dan revolusi 1945-1949.
     
    Universitas-universitas di Indonesia disemati predikat agung "universitas kerakyatan" karena sejarah keberpihakan nyata kepada rakyat. Kehadirannya menyimbolkan kerinduan akan pengetahuan, kesetaraan, dan kemandirian dalam pendidikan. Oleh karena itu, universitas di Indonesia tidak hanya mengemban misi menyejahterakan rakyat, tetapi juga tanggung jawab historis untuk selalu berada di tengah rakyat, merespons dinamika dan memahami persoalan mereka.
     
    Tafsir kerakyatan
     
    Meskipun demikian, tafsir makna "kerakyatan" pada predikat eksistensial-historis universitas telah menghadirkan paradoks dalam praktik penyelenggaraan pendidikan tinggi. Kritik yang telah lama dilontarkan adalah biaya kuliah semakin mahal. Dicabutnya UU Nomor 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan dan diterapkannya kembali model seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (PTN) terbukti tak melebarkan akses massa-rakyat atas layanan pendidikan.
     
    Pengamatan menunjukkan, dana sumbangan pendidikan di beberapa jurusan sosial PTN tahun 2011 mencapai sekitar lima kali biaya masuk jurusan yang sama pada sejumlah perguruan tinggi swasta (PTS) berakreditasi A. Seperti diberitakan Kompas (11/7/2011), banyak orangtua terkejut menerima fakta (masih) mahalnya biaya kuliah di PTN. Beberapa calon mahasiswa yang telah lolos seleksi membatalkan kesempatan kuliah di PTN dan memilih PTS yang biayanya terjangkau.
     
    Hal ini amat ironis, pertama, karena anggaran pendidikan nasional terus ditambah dan sebagian besar dialokasikan untuk lembaga pendidikan negeri. Penambahan anggaran itu tampaknya tak menurunkan biaya masuk PTN yang harus ditanggung orangtua mahasiswa.
     
    Kedua, biaya mahal dan anggaran besar PTN tak otomatis berdampak pada ketersediaan infrastruktur dan atmosfer kampus yang kondusif bagi proses pendidikan. Antara 2006 dan 2007, saya mengunjungi kampus sejumlah PTN besar di Jawa dan Sumatera serta menemukan kondisi kumuh yang merata di kampus-kampus itu.
     
    Kampus PTN umumnya sangat terbuka secara fisik dalam arti sebenarnya. Tak hanya dosen, mahasiswa, dan pegawai, pedagang asongan, pengemis, dan pengamen juga bebas masuk-keluar, bahkan hingga ke ruang sekretariat jurusan. Saya hampir tak dapat membedakan sebuah kampus PTN di Jakarta dengan Pasar Minggu karena sama-sama riuh dengan aktivitas transaksi orang-orang beraneka profesi.
     
    Infrastruktur kampus PTN cenderung tidak terawat meskipun gedung dan bangunan diperbarui secara periodik. Debu di jendela dan lantai kelas yang kusam menandakan pemeliharaan rutin yang tak tuntas. Banyak lorong dan ruangan gelap karena bola lampu tak terpasang. WC kampus PTN umumnya berbau menyengat dengan kerak kuning melekat di porselen kloset dan air tak mengalir. Di Padang, saya menemukan WC kampus dengan bak air besar yang aroma, bentuk, dan kondisinya hampir sama dengan tempat penampungan ikan di Pantai Depok, Bantul, DI Yogyakarta.
     
    Kondisi kumuh kampus-kampus tersebut adalah paradoks universitas kerakyatan. Sejauh menyangkut infrastruktur dan standar kebersihan, konsep universitas kerakyatan ditafsirkan sebagai "apa adanya". "Rakyat" diidentikkan dengan hal-hal kumuh dan murahan.
     
    Secara fisik, kampus-kampus PTN mudah dimasuki siapa saja, termasuk pengamen dan pedagang asongan yang berpotensi mengganggu proses belajar-mengajar. Di sini, kampus kerakyatan berarti kampus untuk semua golongan rakyat, termasuk rakyat kecil!
     
    Namun, secara akademik, kampus-kampus PTN hanya dapat diakses golongan kelas menengah ke atas. Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengakui, sampai 2011 hanya 6 persen mahasiswa PTN dari golongan ekonomi lemah (Kompas, 11/7/2011). Artinya, kendati secara fisik dapat diakses siapa pun serta kumuh dan terkesan murahan karena hiruk-pikuk aneka aktivitas keseharian, secara struktural-sistemis kampus-kampus PTN adalah kampus elite yang sama sekali tak murah.
     
    Perubahan sistemis
     
    Inilah paradoks universitas kerakyatan yang ingkar dari sejarah adanya. Rakyat sebagai subyek pajak berhak mempertanyakan penggunaan anggaran negara dalam pengelolaan PTN. Orangtua mahasiswa berhak menuntut penjelasan atas beban biaya kuliah dengan membandingkan kondisi fisik infrastruktur kampus dan atmosfer belajarnya.
     
    Pemberian beasiswa pemerintah untuk anak-anak dari keluarga berekonomi lemah baik maksudnya. Namun, kebijakan ini lebih bersifat filantropis. Jauh lebih baik jika perubahan dilakukan secara sistemis dan struktural agar biaya kuliah di PTN terjangkau sebagian besar warga negara kendati tanpa beasiswa. Anggaran pendidikan nasional yang terus meningkat memungkinkan perubahan ini jika alokasi dan manajemen anggaran dilakukan dengan tepat dan akurat.
     
    Sembari mengejar ambisi internasionalisasi pendidikan tinggi, ada baiknya para pengelola PTN membenahi hal-hal fisik dan mendasar, khususnya menyangkut pemeliharaan dan standar kebersihan/kesehatan kampus. Dalam hal ini, manajemen sejumlah PTS dan "rasa memiliki" warganya relatif lebih baik. Tak ada salahnya etos kerja dan manajemen PTS yang baik itu diadopsi PTN.
     
    Agus Suwignyo Pedagog cum Sejarawan Pendidikan Fakultas Ilmu Budaya UGM
     
    http://m.kompas.com/cetak/cread/2011/07/16/02585182/universitas-kerakyatan
    Powered by salakpondohmania®
     
    --
    +++
    Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
    Transfer ke:
    1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
    2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
    +++

     

    rsulastama@gmail.com Jul 16 12:41AM ^
     
    Gedong Songo, Harmoni yang Bergeser...
    click to enlarge
    Oleh Winarto Herusansono dan Sonya Hellen Sinombor
     
    Gedong Songo pada awalnya adalah kabut gunung dan uap belerang. Lalu pemujaan dan pencarian diri. Dibangun antara abad VII dan abad VIII, lebih tua dari Candi Borobudur dan Candi Prambanan, cerita tentang Candi Gedong Songo agaknya lebih banyak masih diselimuti kabut zaman. Krisis energi global kini naik ke sana merisaukan penduduknya. 
     
    Kompleks tujuh candi dari sembilan candi yang tersisa itu berlarik memutari pinggang hingga puncak Gunung Ungaran di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, berketinggian 1.800 meter di atas permukaan laut.
     
    Sekali Anda masuk ke sana—apalagi tergiur menunggang kuda—mendadak akan terasa kita berada di perbatasan: dunia yang fana serta kabut gunung dan gunung-gemunung lain nun jauh di sana. Gunung Ungaran memang lokasi eksotik. Umat Hindu purba memilih lokasi tempat pemujaan kepada Hyang Widhi Wasa.
     
    Meski disebut-sebut dibangun sekitar abad VIII, belum ada bukti pasti kapan persisnya kompleks percandian itu dibangun dan benarkah itu bagian dari mahakarya Wangsa Syailendra yang menciptakan kompleks candi di Borobudur, Dieng, dan Prambanan.
     
    Posisi Gedong Songo yang dibangun berderet dari bawah ke puncak perbukitan juga mengundang pertanyaan arkeolog. Apakah bangunan-bangunan candi tersebut dibangun berdasarkan hierarki kesucian—bahwa candi yang di atas lebih suci dari yang di bawahnya—ataukah deretan candi tersebut merupakan petunjuk urutan sebuah prosesi keagamaan? Pertanyaan itu hingga kini juga belum terjawab.
     
    "Kalau itu dibangun oleh pendeta Hindu, apakah dibangun oleh komunitas pendeta ataukah pendetanya yang diminta pihak kerajaan? Kalau melihat dari ciri dan kualitas candinya, memang beda dengan candi yang dibangun di dataran (rendah) oleh kerajaan," ujar Gutomo, arkeolog dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jateng.
     
    Lalu, mengapa namanya Gedong Songo, padahal saat ini secara fisik jumlah candi yang berada di kawasan perbukitan di Dusun Darum, Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, itu hanya tujuh buah? Itu juga pertanyaan yang belum terjawab.
     
    Konon, Gedong Songo merupakan nama yang diberikan penduduk setempat yang diambil dari kata gedong (rumah atau bangunan) dan songo yang berarti sembilan sehingga artinya sembilan (kelompok) bangunan. "Gedong Songo dulu namanya Gedongpitoe. Namanya menjadi Gedong Songo karena mungkin ada sembilan kelompok candi, tetapi sebagian sudah hilang," ujar Gutomo.
     
    Soal apakah posisi candi-candi itu menunjukkan hierarki kesucian atau lainnya, Gutomo mengakui belum memperoleh jawaban hingga kini. Sebab, ciri bangunan candi dari bawah hingga atas sama.
     
    Namun, Gedong Songo—sebagaimana tradisi agama Hindu—adalah lambang penyatuan alam dan Sang Ilahi. Karena itulah, ketika berada di kawasan Candi Gedong Songo, orang tidak hanya merasakan kehadiran candi-candi di gunung, tetapi juga sebuah impresi alam menakjubkan.
     
    "Ada semacam harmonisasi religi dan alam karena di Gedong Songo, wajah Tuhan bisa dilihat melalui alam. Di tempat yang hening itulah orang merasakan kedamaian, ketenangan jiwa," papar Gutomo.
     
    MA Soetikno, seniman dan pemilik Sanggar Seni Gedong Songo, menyebut Gedong Songo adalah sumber inspirasi budaya, khususnya dalam menghayati kebesaran Tuhan dan memaknai kehidupan.
     
    "Sebagian orang menafsirkan Gedong Songo yang sembilan itu lambang pengendalian sembilan indera pada tubuh manusia," kata Soetikno sambil menyebut sepasang indera mata, dua lubang hidung, dua lubang telinga, mulut, dan seterusnya. Bangunan candi juga representasi bentuk tubuh manusia: kepala, tubuh, dan kaki.
     
    Candi Gedong Songo terdiri dari lima kawasan/bagian yang dikenal dengan nama Gedong I, II, III, IV, dan V. Gedong I tempatnya paling rendah dan Gedong V berada di puncak ketinggian. "Jadi, jumlah candi di Gedong Songo sebenarnya adalah 22 candi yang dibagi dalam lima kelompok. Di atas gunung masih ada candi lagi, tetapi belum dipugar," ujar Gutomo.
     
    Arkeolog dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, Semarang, Eko Punto Hendro, mengutarakan, candi tersebut termasuk candi tertua seperti halnya Candi Dieng di Dataran Tinggi Dieng.
     
    BP3 Jateng mencatat, kompleks percandian itu pertama kali ditemukan peneliti purbakala berkebangsaan Belanda, Loten, tahun 1740. Tahun 1804, Rafles mencatat kompleks tersebut dengan nama Gedong Pitoe karena hanya ditemukan tujuh bangunan. Sederet penelitian dan pemugaran kemudian dilakukan hingga tahun 1977-1983.
     
    Candi yang berjarak 45 kilometer dari Kota Semarang atau hanya 15 kilometer dari Kecamatan Ambarawa itu berada di kawasan perpaduan lembah dan perbukitan lereng Gunung Ungaran.
     
    Bagi Ngatimin (46), juru pelihara Candi Gedong Songo, candi itu bagaikan mutiara kehidupan karena menjadi sumber nafkah masyarakat sekitar secara turun-temurun. "Pedagang, pemandu kuda, juru potret, dan masyarakat lainnya," kata Ngatimin.
     
    Namun, yang sekarang meresahkan penduduk adalah rencana pemerintah mengeksplorasi potensi gas alam di tengah krisis multi-energi sekarang ini....
     
     
    http://m.kompas.com/cetak/cread/2011/07/16/04430955/gedong-songo-harmoni-yang-bergeser
    Powered by salakpondohmania®

     

    Izzul Waro - INSTRAN <izzul26@gmail.com> Jul 16 06:35AM +0700 ^
     
    Innalillahi wainnailaihi roji'un. Dosen JTSL FT, Bapak Dr. Fitri
    Mardjono, meninggal dunia, semoga diampuni segala khilafnya & mendapat
    tempat istimewa di sisi Allah SWT...
    Semoga Ibu Pangesti & temen kita Chiko juga diberi ketabahan, amin.
     
     
    --
    Izzul Waro - izzul26@gmail.com

     

    Akhmad Khusyairi <a.khusyairi@kagamavirtual.org> Jul 16 07:06AM +0700 ^
     
    Innalillahi wa innailaihi rojiun....turut bela sungkawa, semoga amal
    ibadahnya diterima Allah SWT dan diampuni salah dan khilaf serta
    diberikan kesabaran dan keihlasan bagi kelg yang ditinggalkan
     
     
    --
    Regards,
     
    Akhmad Khusyairi
    www.akhmadkhusyairi.wordpress.com

     

    vriovia@kagamavirtual.com Jul 16 12:40AM ^
     
    Innalilahi wa inalilahi rajiun. Semoga amal ibadah nya di terima d sisi Allah SWT.aminn
    valdi riovia
    BRI Pandeglang/FKT 96
     
    -----Original Message-----
    From: Akhmad Khusyairi <a.khusyairi@kagamavirtual.org>
    Sender: alumniugm@googlegroups.com
    Date: Sat, 16 Jul 2011 07:06:04
    To: <alumniugm@googlegroups.com>
    Reply-To: alumniugm@googlegroups.com
    Subject: Re: [kagama] Innalillah wainna ilaih roji'un, Dr.Ir.Fitri Mardjono meninggal
     
    Innalillahi wa innailaihi rojiun....turut bela sungkawa, semoga amal
    ibadahnya diterima Allah SWT dan diampuni salah dan khilaf serta
    diberikan kesabaran dan keihlasan bagi kelg yang ditinggalkan
     
    > 2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL ,
    > 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
    > +++
     
    --
    Regards,
     
    Akhmad Khusyairi
    www.akhmadkhusyairi.wordpress.com
     
    --
    +++
    Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
    Transfer ke:
    1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
    2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
    +++

     

    ysanst@kagamavirtual.com Jul 15 02:46PM ^
     
    O gitu, wis aku titip kaos kuning e anwar ibrahim ato anak nya nurul izzah
    valdi riovia
    -----------------------
    O iya Mas Valdi,td malam temen2 Kagama Riau kedatangan tamu agung,Mas Eko Eshape..ini ada fotonya waktu ngangkring bareng di Angkringan Melur.
     
    Yassir
    Iwak-02
    Powered by Telkomsel BlackBerry®

     

    vriovia@kagamavirtual.com Jul 15 04:08PM ^
     
    Wis d kasih makan sate padang ya?
     
    valdi riovia
    BRI Pandeglang/FKT 96
     
    -----Original Message-----
    From: ysanst@kagamavirtual.com
    Sender: alumniugm@googlegroups.com
    Date: Fri, 15 Jul 2011 14:46:57
    To: <alumniugm@googlegroups.com>
    Reply-To: alumniugm@googlegroups.com
    Subject: Re: [kagama] Kopdar Juli 2011, Angkringan IV Kagama Riau
     
    O gitu, wis aku titip kaos kuning e anwar ibrahim ato anak nya nurul izzah
    valdi riovia
    -----------------------
    O iya Mas Valdi,td malam temen2 Kagama Riau kedatangan tamu agung,Mas Eko Eshape..ini ada fotonya waktu ngangkring bareng di Angkringan Melur.
     
    Yassir
    Iwak-02
    Powered by Telkomsel BlackBerry®
     
    --
    +++
    Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
    Transfer ke:
    1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
    2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
    +++

     

--
+++
Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
Transfer ke:
1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
+++
Loading...