Total Tayangan

myspace hit counter

[kagama] Intisari untuk alumniUGM@googlegroups.com - 25 Pesan pada 7 Topik

Selasa, Juli 19, 2011

Grup: http://groups.google.com/group/alumniUGM/topics

    Irvan Kristanto <irvankristanto@gmail.com> Jul 19 07:22AM +0700 ^
     
    Sebenarnya ada beberapa film Indonesia yang bagus, tapi ya, males ke bioskop
    krn gak lengkap rasanya...
    Surat Kecil Untuk Tuhan?, itu bagus sepertinya.....
    Iya.. Kungfu panda 2.... juga masuk daftar incaran.... mungkin harus ke
    twomanggoes buat cari dvd bajakan....
    @Mbak Rury... iya, Ron Weasley sangat lucu.... dan cintanya ke Hermione
    sangat bagus pengadeganannya dari seri2 awal
     
    irvan
     
    2011/7/19 <suryabudiariyadi@gmail.com>
     

     

    Ruri Anitasari <r.anitasari@gmail.com> Jul 19 09:41AM +0700 ^
     
    Hohohohoho...
    omong" tentang bajaken,
    semalem abis ngambassador, dan udah dapet Kungfu Panda 2, X-Men 5, dan Fast
    5 copy ori :D
    gambar Ok, subtitle juga OK :D
    Yang mau Cars 2 juga udah ok, pirates belum :(
     
    Semalem juga ditawarin transformer 3, katanya dah bagus
    tapi karena mau nunggu di bioskop, ga nyobain :D
     
    Thanks
    Regards,
    Ruri
     
     
    2011/7/19 Irvan Kristanto <irvankristanto@gmail.com>
     

     

    samuel_sahata@yahoo.com Jul 19 02:50AM ^
     
    The deathly hallows Part 2 kmrn kbtulan baru nonton
     
    Seru juga filmnya, cerita nya bagus dan efeknya jg ok,cmn klo dibandingkan novelnya g bgitu paham karena blm baca he3x
    Sent from my BlackBerry®
    powered by Sinyal Kuat INDOSAT
     
    -----Original Message-----
    From: suryabudiariyadi@gmail.com
    Sender: alumniugm@googlegroups.com
    Date: Mon, 18 Jul 2011 17:12:25
    To: <alumniugm@googlegroups.com>
    Reply-To: alumniugm@googlegroups.com
    Subject: Re: [kagama] (Film): 'The Deathly Hallows: Part 2': Akhir 10
    TahunPerjalanan Harry Potter
     
    Film ini yg paling sy tunggu. Di urutan ke-2 & 3 ada Transformer 3 dan kungfu panda 2.
    Muak banget dg film2 Indo yg isinya hantu2 porno ga bermutu. Gmn bs berkembang perfilman kita kalo isinya film otak kancut.
    Film2 Indo spt laskar pelangi, ayat2 cinta, itulah yg perlu dikembangkan bukan film2 yg berlomba2 mendatangkan artis porno.ckckck..
    Kl msh bgini industri bioskop akan laris manis tutup tikar & industri pembajakan yg akan semakin berkembang & diminati. Lah drpd mahal2 nntn d singapore mending beli bajakan. Yg kualitas bagus kan jg ada :p..
     
     
    Rrgards,
    SBA
    Sent from my BlackBerry®
    powered by Sinyal Kuat INDOSAT
     
    --
    +++
    Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
    Transfer ke:
    1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
    2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
    +++

     

    vriovia@kagamavirtual.com Jul 19 02:55AM ^
     
    Wah mantabs tu transformer. Pertempuraan abis2 an. Jalan cerita nya juga bagus.tapi lama ne poll
    valdi riovia
    BRI Pandeglang/FKT 96
     
    -----Original Message-----
    From: Ruri Anitasari <r.anitasari@gmail.com>
    Sender: alumniugm@googlegroups.com
    Date: Tue, 19 Jul 2011 09:41:36
    To: <alumniugm@googlegroups.com>
    Reply-To: alumniugm@googlegroups.com
    Subject: Re: [kagama] (Film): 'The Deathly Hallows: Part 2': Akhir 10
    TahunPerjalanan Harry Potter
     
    Hohohohoho...
    omong" tentang bajaken,
    semalem abis ngambassador, dan udah dapet Kungfu Panda 2, X-Men 5, dan Fast
    5 copy ori :D
    gambar Ok, subtitle juga OK :D
    Yang mau Cars 2 juga udah ok, pirates belum :(
     
    Semalem juga ditawarin transformer 3, katanya dah bagus
    tapi karena mau nunggu di bioskop, ga nyobain :D
     
    Thanks
    Regards,
    Ruri
     
     
    2011/7/19 Irvan Kristanto <irvankristanto@gmail.com>
     
     
    --
    +++
    Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
    Transfer ke:
    1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
    2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
    +++

     

    Armien Dwi Susanti Kusdarwanto <armien_kusdarwanto@yahoo.co.id> Jul 19 10:58AM +0800 ^
     
    Mas2 dan Mbak2 Kagamaer semua,
     
     
    Keponakan saya tahun ini belum lolos sebagai mahasiswa,dan kencengnya pengin Kedokteran,ortunya lagi kalang-kabut nyariin Universitas,adakah info tuk mendapatkan beasiswa Fak Kedokteran di LN ato berapa biaya yang dibutuhkan jika tanpa beasiswa,terimakasih infonya.
     
    Salam,
     
    Armien.

     

 Topik: JOMBLOWAN/I
    arianto_rizki@yahoo.com Jul 19 01:21AM ^
     
    Perkenalkan saya YSA,27 thn,jomblo ganteng dgn tinggi 170 cm BB 55 kg,warna kulit sawo mateng,level kegantengan setara Brad Pit dan jauh diatas level kegantengan Jimmy Mboe,
     
    *********
     
    Dengan spec seperti diatas, kok masih jomblo ya?? Dipertanyakan nih..hahahahaha..
     
    Piss ah :)
     
    Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
     
    -----Original Message-----
    From: ysanst@kagamavirtual.com
    Sender: alumniugm@googlegroups.com
    Date: Tue, 19 Jul 2011 01:08:54
    To: <alumniugm@googlegroups.com>
    Reply-To: alumniugm@googlegroups.com
    Subject: Re: [kagama] JOMBLOWAN/I
     
    Topik dirubah, monggo
     
    Smy 73
    ------------------------
    Perkenalkan saya YSA,27 thn,jomblo ganteng dgn tinggi 170 cm BB 55 kg,warna kulit sawo mateng,level kegantengan setara Brad Pit dan jauh diatas level kegantengan Jimmy Mboe,memimpikan pasangan minimal secantik Dian Sastro..huahahahahahaha
     
    Yassir
    Iwak-02
     
    Powered by Telkomsel BlackBerry®
     
    --
    +++
    Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
    Transfer ke:
    1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
    2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
    +++

     

    vriovia@kagamavirtual.com Jul 19 01:23AM ^
     
    Tenaang fpi wis ono proyek dewe mas, buat pemilukada dki.
    valdi riovia
    BRI Pandeglang/FKT 96
     
    -----Original Message-----
    From: Moh Budiono Santoso <mohbudiono.santoso@gmail.com>
    Sender: alumniugm@googlegroups.com
    Date: Tue, 19 Jul 2011 08:21:08
    To: <alumniugm@googlegroups.com>
    Reply-To: alumniugm@googlegroups.com
    Subject: Re: [kagama] Liku-Liku Laki-Laki Tak Laku-Laku
     
    iya juga yah.....hahhahha...
    enggak deh, daripada nti digebukin massa dan didatangin FPI......
     
    2011/7/19 Irvan Kristanto <irvankristanto@gmail.com>
     
    > 2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL ,
    > 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
    > +++
     
    --
    Best Regards,
     
    Moh. Budiono Santoso
     
    --
    +++
    Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
    Transfer ke:
    1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
    2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
    +++

     

    Irvan Kristanto <irvankristanto@gmail.com> Jul 19 08:24AM +0700 ^
     
    Belum menemukan pasangan sekelamin .... hi hi hi.....
     
    2011/7/19 <arianto_rizki@yahoo.com>
     

     

    ariefprihantoro@kagamavirtual.com Jul 19 01:25AM ^
     
    Kalau disini ndak boleh melucu Sir. Disini forum diskusi serius.
     
    Salam,
     
    Arief Prihantoro
     
    -----Original Message-----
    From: ysanst@kagamavirtual.com
    Sender: alumniugm@googlegroups.com
    Date: Tue, 19 Jul 2011 01:16:58
    To: <alumniugm@googlegroups.com>
    Reply-To: alumniugm@googlegroups.com
    Subject: Re: [kagama] JOMBLOWAN/I
     
    Yassir setara Brad Pitt jengki apa Brad Pitt kebo ?
    Salam,
    Arief Prihantoro
    ---------------------------
    Halah,ayo pasarkan dirimu,selucu mungkin..huahahaha..
     
    Selamat pagi semua,awali hari dengan senyum..sukses2
     
    Yassir
    Iwak-02
    Powered by Telkomsel BlackBerry®
     
    --
    +++
    Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
    Transfer ke:
    1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
    2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
    +++

     

    ariefprihantoro@kagamavirtual.com Jul 19 01:29AM ^
     
    Dengan spec seperti diatas, kok masih jomblo ya?? Dipertanyakan nih..hahahahaha..
    ---------------
     
    Yassir sengaja nunggu ngakik dulu. Bahkan kata dia kemarin nunggu jadi intan dulu, jadi itu alasannya menjomblo.

    Salam,
     
    Arief Prihantoro

     

    ysanst@kagamavirtual.com Jul 19 01:34AM ^
     
    Body ideal tapi kalo Bau Badan 55 kg..sapa yg berani deket..hahaha..harus dimandiin di tujuh sumur tuh...hahaha..
    jimmymboe@gmail.com
    ----------------------------------
    Ini fitnah sodara-sodara...saya akan minta kuasa hukum saya menyelesaikan d jalur busway..
     
    Yassir
    Iwak-02
    Powered by Telkomsel BlackBerry®

     

    Irvan Kristanto <irvankristanto@gmail.com> Jul 19 08:37AM +0700 ^
     
    fakta hukumnya apa ya?
     
    2011/7/19 <ysanst@kagamavirtual.com>
     

     

    ysanst@kagamavirtual.com Jul 19 01:49AM ^
     
    fakta hukumnya apa ya?
     
    irvankristanto@gmail.com
    ------------------
    Nanti bisa tanya pengacara saya,hahaha asline yo ra ngerti..
     
    Yassir
    Iwak-02
    Powered by Telkomsel BlackBerry®

     

    "Milona Ilza Sakantira" <milonasakantira@kagamavirtual.net> Jul 19 01:40AM ^
     
    Jomblo..?? Yoiii.. Saya jomblo bin single.. Dan saya tetep bahagia. Mana nih temen2 geng "IJO LUMUT" yg lain ..??
     
    Salam
     
    -Milona-
     
    Sent from my MiloBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Alhamdulilah Nyambung Teyyuuusss...!

     

    Sumuyut Sarjono <sumuyut.sarjono@jobpps.com> Jul 19 01:46AM ^
     
    Silahkan kopdar JOMBLOWAN/TI, sebelum puasa siapa tahu ada yang cocok satu kampus lagi
    Jangan kelamaan NJOMBLO, jangan nyari dengan syarat A -Z ( maaf ya ) ha he ho ........ MONGGGO
     
    Komporwan
    Smy 73
     
    -----Original Message-----
    From: alumniugm@googlegroups.com [mailto:alumniugm@googlegroups.com] On Behalf Of Milona Ilza Sakantira
    Sent: 19 Juli 2011 8:40
    To: alumniugm@googlegroups.com
    Subject: Re: [kagama] JOMBLOWAN/I
     
     
    Jomblo..?? Yoiii.. Saya jomblo bin single.. Dan saya tetep bahagia. Mana nih temen2 geng "IJO LUMUT" yg lain ..??
     
    Salam
     
    -Milona-
     
    Sent from my MiloBerry(r) smartphone from Sinyal Bagus XL, Alhamdulilah Nyambung Teyyuuusss...!
     
    --
    +++
    Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
    Transfer ke:
    1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir - BCA 5530247734 - KCP Otista
    2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
    +++

     

    norha_sweety@yahoo.com Jul 19 03:15AM ^
     
    Budhe milo....
    I'm here....
     
    *nah lho*
     
    #Ikut-ikutan nimbrung#
     
     
    Powered by Telkomsel BlackBerry®
     
    -----Original Message-----
    From: "Milona Ilza Sakantira" <milonasakantira@kagamavirtual.net>
    Sender: alumniugm@googlegroups.com
    Date: Tue, 19 Jul 2011 01:40:22
    To: <alumniugm@googlegroups.com>
    Reply-To: alumniugm@googlegroups.com
    Subject: Re: [kagama] JOMBLOWAN/I
     
     
    Jomblo..?? Yoiii.. Saya jomblo bin single.. Dan saya tetep bahagia. Mana nih temen2 geng "IJO LUMUT" yg lain ..??
     
    Salam
     
    -Milona-
     
    Sent from my MiloBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Alhamdulilah Nyambung Teyyuuusss...!
     
    --
    +++
    Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
    Transfer ke:
    1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
    2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
    +++

     

    umigita@gmail.com Jul 19 03:03AM ^
     
    Ya simbah sumuyut yang memfasilitasi gimana?
    Ntar simbah sumuyut kaya matchactually hehehe
     
    Salam,
     
    Umi gita
    Powered by Telkomsel BlackBerry®
     
    -----Original Message-----
    From: Sumuyut Sarjono <sumuyut.sarjono@jobpps.com>
    Sender: alumniugm@googlegroups.com
    Date: Tue, 19 Jul 2011 01:46:23
    To: alumniugm@googlegroups.com<alumniugm@googlegroups.com>
    Reply-To: alumniugm@googlegroups.com
    Subject: RE: [kagama] JOMBLOWAN/I
     
    Silahkan kopdar JOMBLOWAN/TI, sebelum puasa siapa tahu ada yang cocok satu kampus lagi
    Jangan kelamaan NJOMBLO, jangan nyari dengan syarat A -Z ( maaf ya ) ha he ho ........ MONGGGO
     
    Komporwan
    Smy 73
     
    -----Original Message-----
    From: alumniugm@googlegroups.com [mailto:alumniugm@googlegroups.com] On Behalf Of Milona Ilza Sakantira
    Sent: 19 Juli 2011 8:40
    To: alumniugm@googlegroups.com
    Subject: Re: [kagama] JOMBLOWAN/I
     
     
    Jomblo..?? Yoiii.. Saya jomblo bin single.. Dan saya tetep bahagia. Mana nih temen2 geng "IJO LUMUT" yg lain ..??
     
    Salam
     
    -Milona-
     
    Sent from my MiloBerry(r) smartphone from Sinyal Bagus XL, Alhamdulilah Nyambung Teyyuuusss...!
     
    --
    +++
    Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
    Transfer ke:
    1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir - BCA 5530247734 - KCP Otista
    2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
    +++
     
    --
    +++
    Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
    Transfer ke:
    1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
    2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
    +++

     

    Arif Perdana <arifperdana@gmail.com> Jul 19 09:49AM +0700 ^
     
    Benarkah Semakin Berat, Semakin Hebat?
     
    Rhenald Kasali
     
    http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/412716/44/
     
     
    Sebagian besar pembaca, mungkin dibesarkan dalam kultur ekonomi yang sulit
    sehingga kaya dengan berbagai peribahasa seperti: Hemat Pangkal Kaya dan
    Rajin Pangkal Pandai. Kita bermain layang-layang di antara pematang sawah
    yang tiada batasnya, menangkap belut di antara lumpur-lumpur sungai yang
    airnya bening, bermain bersama anak-anak kampung dengan tiada henti canda,
    tawa, dan keringat.
     
    Bagaimana anak-anak kita sekarang? Lahan-lahan kosong telah berganti
    menjadi kebun sawit atau perumahan mewah. Tak ada lagi lapangan badminton,
    arena bermain layang-layang dan air yang mengalir bening. Pestisida dan
    pupuk kimia merusak tanah. Tapi anak-anak punya mainan baru, Facebook,
    Twitter, *online games*, warnet, dan bimbel. Pergaulan fisik diganti oleh
    dunia maya, statistic, dan ilmu berhitung diganti kalkulator dan *software*.
    Dulu kita hanya belajar sembilan mata pelajaran sehingga masih banyak waktu
    untuk bermain. Bagaimana anak-anak kita?
     
    Bukannya dikurangi, tetapi semakin hari yang dipaksakan masuk ke dalam otak
    anak-anak kita semakin banyak. Sewaktu saya menulis "Sekolah Untuk Apa?"
    minggu lalu, saya menyebut anak saya di kelas sepuluh diharuskan menuntaskan
    16 mata pelajaran, seorang ibu menyurati saya karena anaknya yang belajar
    di MI diwajibkan tuntas 23 mata pelajaran. Sementara di New Zealand dan
    banyak negara maju anak-anak sekolah hanya mengambil 6 mata pelajaran.
    Ketika mereka menganut *spirit* "*The Power of Simplicity*", kita justru
    tenggelam dalam *spirit* benang kusut, "kalau terlalu mudah tidak akan
    melahirkan kehebatan".
     
    Bukan hanya itu, di banyak negara selain dirampingkan, mata ajar wajib juga
    dibatasi hanya dua, selebihnya dijadikan pilihan yang dikaitkan dengan
    karier masa depan. Bagaimana di sini? Mata ajar yang banyak itu adalah
    mata ajar yang "sakral", wajib diambil semuanya. Kesakralan itu sesungguhnya
    hanya semu saja, karena mata ajar agama disamakan dengan berhitung dan
    sejarah ala kita, yaitu ala hafal-hafalan. Bukan belajar dari sejarah,
    tetapi pengetahuan tentang sejarah. Bukan akhlak dan moral dalam beragama,
    melainkan hafalan ayat. Dan bukan logika matematika, melainkan bagaimana
    menurunkan rumus. Lengkaplah penderitaan anak-anak kita.
     
     
     
    *Ubah Cara Pandang*
     
    Namun sewaktu saya bercerita bagaimana sekolah di Belanda, Cina, dan New
    Zealand, ada juga orang tua yang protes. Mereka tak menginginkan sekolahnya
    dibuat lebih mudah. "Sekolah itu memang harus sulit dan anak-anak harus
    berjuang,". Kalau dibuat mudah, bagi orang tua ini, maka sekolah tak akan
    menghasilkan apa-apa. Saya dapat mengerti pandangan ini karena anaknya
    termasuk anak yg cerdas, tuntas semua mata pelajaran dengan nilai tinggi.
    Namun saya kurang mengerti bagaimana orangtua rela menyita seluruh waktu
    masa muda anaknya hanya untuk belajar.
     
    Mendidik bukanlah untuk melahirkan orang-orang yang bingung, tahu semua tapi
    selalu bertanya "saya harus melakukan apa?" ini adalah realita, semakin
    banyak ditemui orang yang tak bisa bekerja dengan prioritas. Anda mungkin
    pernah mendengar ucapan Stephen Covey, "Dahulukanlah Yang Utama". Atau
    seperti kata Maxwell, "Bekerjalah dengan prioritas karena 80% hasil yang
    engkau capai hanya berasal dari 20% upayamu." Orang yang ingin menuntaskan
    semua tugas (dan banyak) bisa bagus di ijazah tapi bisa bingung dalam
    kehidupan. Kata para ulama, kesempurnaan hanyalah milik Tuhan. Tetapi
    seperti Michael Jackson yang sudah sempurna, manusia selalu ingin lebih
    sempurna lagi, sampai akhirnya rusaklah wajah, tubuh dan kesehatan jiwanya.
     
     
    Saya juga kurang mengerti kalau pendidik kurang memahami bahwa talenta dan *
    leadership* merupakan kunci untuk mencapai keberhasilan hidup. Untuk itulah
    talenta harus diasah, diberi ruang ,dan waktu agar ia tumbuh .
    *Leadership*maupun
    *entrepreneurship* diasah dari keseharian di luar bangku sekolah. Diuji
    dalam interaksi kehidupan.
     
    Tentu saya bertanya-tanya kalau pendidikan kita dibuat lebih ramping apakah
    benar menjadi lebih baik. Saya selalu teringat masa-masa memulai karir
    sebagai penguji di program S3. Saat seorang tua, kandidat doktor diuji,
    yang mengajukan pertanyaan ada 13 orang hebat. Namanya juga orang hebat,
    pertanyaannya pasti sulit bagi seorang pemula. Tetapi Semua penguji tidak
    puas, kandidat digoreng kekiri, diongseng ke kanan hingga nyaris hangus. Di
    ruang rapat semua menyatakan tidak puas. Sebagai doktor muda yang baru
    kembali dari sekolah doktor saya tak punya suara yang berarti. Saya hanya
    bertanya,"beginikah cara bapak-bapak menguji seorang calon doktor?"
     
    Semua orang terdiam, dan saya pun terkejut dengan pertanyaan saya. Beberapa
    orang menatap tajam, karena mereka adalah mantan guru-guru saya dan terkenal
    di hadapan publik. Karena malu telah berta-kata bodoh, saya teruskan saja
    berkata jujur. Saya katakan kita harus percaya diri. Ujian dengan penguji
    sebanyak ini menunjukkan kita kurang pede. Lagi pula tak ada yang bisa lulus
    dengan ujian seperti ini. Semua dosen hanya marah-marah karena
    kepintarannya tak dimengerti orang lain, dan memberi saran yang saling
    bertentangan.
     
    Sayapun mengatakan andaikan saya yang diuji di sini, saya berani jamin saya
    pun tidak akan lulus. Pertanyaan ujian terlalu luas. Di Amerika Serikat,
    kita hanya diuji oleh empat orang pembimbing, dan bila kita bingung, kita
    tidak dibantai, malah dibantu. Di Indonesia, kalau kita membantu mahasiswa
    kita dianggap berkolusi. Di SLTA negara-negara maju, jumlah mata ajar
    memang ramping, tetapi sejak remaja mereka sudah biasa membuat makalah
    dengan kedalaman referensi dan terbiasa bekerja dengan metode ilmiah.
     
    Demikianlah persekolahan kita. Bukannya disederhanakan, justru dibuat
    menjadi lebih kompleks. Semua mata ajar kita anggap sakral. Buku ditambah.
    Subjek ditambah. Guru juga ditambah. Saya kadang tak habis berpikir,
    bagaimana kita bisa menghasilkan kehebatan dari keribetan ini.
     
    Saya tentu tak akan protes kalau dengan sekolah yang ditempa kesulitan ini
    kita bisa pergi ke bulan. Fakta menunjukkan sebaliknya. Bahkan TKW yang
    Sekolah Dasarnya ditempuh dengan sama beratnya dengan para dokter saja hanya
    berakhir di ujung kesulitan. Tidakkah kita bertanya, jangan-jangan ada yang
    tidak beres dengan kurikulum persekolahan kita?
     
    Saya juga bertanya-tanya, akankah anak-anak dididik dengan baik kalau hanya
    belajar 6 mata pelajaran seperti di New Zealand, Denmark atau negara-negara
    industri lainnya? Namun fakta yang saya temui, ternyata pendidikan yang
    hanya fokus pada enam mata pelajaran itu menempatkan pendidikan New Zealand
    terbaik keenam di dunia. Rasanya di sana juga tak ada siswa yang kesurupan
    saat ujian, apalagi contekan massal. Perlukah kita meremajakan cara
    berpikir kita?

     

    Yulianto Eko Rakhmat <eko.rakhmat@gmail.com> Jul 19 08:55AM +0700 ^
     
    Hukum yang bagus ya dari UII dan UGM....
     
    silahkan menyimpulkan sendiri.....
     
    2011/7/18 <dipo_cahyono@yahoo.com>
     

     

    jimmymboe@gmail.com Jul 19 02:15AM ^
     
    Hukum UGM kurang handal & kurang luwes dlm hal sogok menyogok...hehehe..

    Powered by Telkomsel BlackBerry®
     
    -----Original Message-----
    From: Yulianto Eko Rakhmat <eko.rakhmat@gmail.com>
    Sender: alumniugm@googlegroups.com
    Date: Tue, 19 Jul 2011 08:55:48
    To: <alumniugm@googlegroups.com>
    Reply-To: alumniugm@googlegroups.com
    Subject: Re: [kagama] Salah satu contoh lowongan kerja (UGM kok gak dianggap )
     
    Hukum yang bagus ya dari UII dan UGM....
     
    silahkan menyimpulkan sendiri.....
     
    2011/7/18 <dipo_cahyono@yahoo.com>
     
     
    --
    +++
    Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
    Transfer ke:
    1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
    2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
    +++

     

    Nurcahya Priyonugroho <anung.pnugroho@gmail.com> Jul 19 09:32AM +0700 ^
     

    > Hukum UGM kurang handal & kurang luwes dlm hal sogok menyogok...hehehe..
     
    *** Mudah-mudahan, bukan berarti sogokan dari UGM kurang banyak...
    tapi bener-bener berarti kalo dari UGM itu pantang menyogok, baik
    besar maupun kecil :-)
     
    -Anung-

     

    "Kang Esha" <drsupantahadi@gmail.com> Jul 19 02:52AM ^
     
    Hukum dari ugm nggak terlalu lurus.. Nggak bisa diajak main mata... Apa yyang bisa dibuat oleh teman2 ugm kalau begini...
     
    Powered by Telkomsel BlackBerry®
     
    -----Original Message-----
    From: Nurcahya Priyonugroho <anung.pnugroho@gmail.com>
    Sender: alumniugm@googlegroups.com
    Date: Tue, 19 Jul 2011 09:32:44
    To: <alumniugm@googlegroups.com>
    Reply-To: alumniugm@googlegroups.com
    Subject: Re: [kagama] Salah satu contoh lowongan kerja (UGM kok gak dianggap )
     
     
    > Hukum UGM kurang handal & kurang luwes dlm hal sogok menyogok...hehehe..
     
    *** Mudah-mudahan, bukan berarti sogokan dari UGM kurang banyak...
    tapi bener-bener berarti kalo dari UGM itu pantang menyogok, baik
    besar maupun kecil :-)
     
    -Anung-
     
    --
    +++
    Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
    Transfer ke:
    1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
    2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
    +++

     

    Arif Perdana <arifperdana@gmail.com> Jul 19 09:45AM +0700 ^
     
    Patut menjadi renungan pra pembuat kurikulum dan kebijakan pendidikan di
    Indonesia.
     
     
    Sekolah Untuk Apa (Rhenald Kasali)
     
     
    Beberapa hari ini kita membaca berita betapa sulitnya anak-anak kita mencari
    sekolah. Masuk universitas pilihan, susahnya setengah mati. Kalaupun
    diterima, bak lolos dari lubang jarum. Sudah masuk, ternyata banyak yang
    "salah kamar". Sudah sering saya mengajak dialog mahasiswa yang bermasalah
    dalam perkuliahan yang begitu digali selalu mengatakan mereka masuk jurusan
    yang salah.
     
    Demikianlah, diterima di PTN masalah, tidak diterima juga masalah. Kalau
    ada uang bisa kuliah di mana saja. Bagaimana kalau uang tak ada? Hampir
    semua orang ingin menjadi sarjana, bahkan masuk program S2. Jadi birokrat
    atau jendral pun, sekarang banyak yang ingin punya gelar S3. Persoalan
    seperti itu saya hadapi waktu lulus SMA tiga puluh tahun yang lalu, dan
    ternyata masih menjadi masalah hari ini. Bahkan sekarang, memilih SMP dan
    SMA pun sama sulitnya.
     
    Mengapa hanya soal memindahkan anak karena pindah rumah ke sekolah negeri
    lain saja biayanya begitu besar? Padahal bangku sekolah masih banyak yang
    kosong. Masuk sekolah susah, pindah juga sulit, diterima di perguruan
    tinggi untung-untungan, cari kerja susahnya minta ampun. Lengkap sudah
    masalah kita.
     
    Kalau kita sepakat sekolah adalah jembatan untuk mengangkat kesejahteraan
    dan daya saing bangsa, mengapa dibuat sulit? Lantas apa yang harus
    dilakukan orang tua? Jadi sekolah untuk apa di negeri yang serba sulit
    ini?
     
    *Kesadaran Membangun SDM*
     
    Lebih dari 25 tahun yang lalu, saat berkuasa, PM Malaysia Mahathir Mohammad
    sadar betul pentingnya pembangunan SDM. Ia pun mengirim puluhan ribu
    sarjana mengambil gelar S2 dan S3 ke berbagai negara maju. hal serupa juga
    dilakukan China. Tidak sampai sepuluh tahun, lulusan terbaik itu sudah siap
    mengisi perekonomian negara. Hasilnya anda bisa lihat sekarang. BUMN di
    negara itu dipimpin orang-orang hebat, demikian pula perusahaan swasta dan
    birokrasinya.
     
    Perubahan bukan hanya sampai di situ. Orang-orang muda yang kembali ke
    negerinya secara masif me-*reform* sistem pendidikan. Tradisi lama yang
    terlalu kognitif dibongkar. *Old ways teaching* yang terlalu berpusat pada
    guru dan papan tulis, serta peran *brain memory *(hafalan dan rumus) yang
    dominan mulai ditinggalkan. Mereka membongkar kurikulum, memperbaiki metode
    pengajaran, dan seterusnya. Tak mengherankan kalau sekolah-sekolah di
    berbagai belahan dunia pun mulai berubah.
     
    Di negeri Belanda saya sempat terbengong-bengong menyaksikan bagaimana
    universitas seterkenal Erasmus begitu mudah menerima mahasiswa. "Semua
    warga negara punya hak untuk mendapat pendidikan yang layak, jadi mereka
    yang mendaftar harus kami terima," ujar seorang dekan di Erasmus. Beda
    benar dengan universitas negeri kita yang diberi *privilege* untuk mencari
    dan mendapatkan lulusan SLTA yang terbaik. Seleksinya sangat ketat.
     
    Lantas bagaimana membangun bangsa dari lulusan yang asal masuk ini? "Mudah
    saja," ujar dekan itu. "Kita potong di tahun kedua. Masuk tahun kedua,
    angka drop out tinggi sekali. Di sinilah kita baru bicara kualitas, sebab
    walaupun semua orang bicara hak, soal kemampuan dan minat bisa membuat masa
    depan berbeda,"ujarnya.
     
    Hal senada juga saya saksikan hari-hari ini di New Zealand. Meski
    murid-murid yang kuliah sudah dipersiapkan sejak di tingkat SLTA, angka drop
    out mahasiswa tahun pertama cukup tinggi. Mereka pindah ke politeknik yang
    hanya butuh satu tahun kuliah.
     
    Yang lebih mengejutkan saya adalah saat memindahkan anak bersekolah di
    tingkat SLTA di New Zealand. Sekolah yang kami tuju tentu saja sekolah yang
    terbaik, masuk dalam sepuluh besar nasional dengan fasilitas dan guru yang
    baik. Saya menghabiskan waktu beberapa hari untuk mewancarai lulusan
    sekolah itu masing-masing, ikut tour keliling sekolah, menanyakan kurikulum
    dan mengintip bagaimana pelajaran diajarkan. Di luar dugaan saya, pindah
    sekolah ke sini pun ternyata begitu mudah.
     
    Sudah lama saya gelisah dengan metode pembelajaran di sekolah-sekolah kita
    yang terlalu kognitif, dengan guru-guru yang merasa hebat kalau muridnya
    bisa dapat nilai rata-rata diatas 80 (betapapun stressnya mereka) dan
    sebaliknya memandang rendah terhadap murid aktif namun tak menguasai semua
    subjek. Potensi anak hanya dilihat dari nilai, yang merupakan cerminan
    kemampuan mengkopi isi buku dan cacatan. Entah dimana keguruan itu muncul
    kalau sekolah tak mengajarkan *critical thinking*. Kita mengkritik lulusan
    yang biasa membebek, tapi tak berhenti menciptakan bebek-bebek dogmatik.
     
    Kalau lulusannya mudah diterima di sekolah yang baik di luar negri, mungkin
    guru-guru kita akan menganggap sekolahnya begitu bagus. Mohon maaf,
    ternyata tidak demikian. Jangankan dibaca, diminta transkrip nilainya pun
    tidak. Maka jangan heran, anak dari daerah terpencil pun di Indonesia, bisa
    dengan mudah diterima di sekolah yang baik di luar negeri. Bahkan tanpa
    tes. Apa yang membuat demikian? "undang-undang menjamin semua orang punya
    hak yang sama untuk belajar," ujar seorang guru di New Zealand.
     
    Lantas, bukankah kualitas lulusan ditentukan *input*nya? "itu ada benarnya,
    tapi bukan segala-galanya," ujar putera sulung saya yang kuliah di Auckland
    University tahun ketiga. Maksudnya, test masuk tetap ada, tetapi hanya
    dipakai untuk penempatan dan kualifikasi.
     
    Di tingkat SLTA, mereka hanya diwajibkan mengambil dua mata pelajaran wajib
    (*compulsory*) yaitu matematika dan bahasa Inggris. Pada dua mata pelajaran
    ini pun mereka punya tiga kategori: akselerasi, rata-rata, dan yang masih
    butuh bimbingan. Sekolah dilarang hanya menerima anak-anak bernilai akademik
    tinggi karena dapat menimbulkan guncangan karakter pada masa depan anak,
    khususnya sifat-sifat superioritas, arogansi, dan kurang empati. Mereka
    hanya super dikedua kelas itu, di kelas lain mereka berbaur. Dan belum tentu
    superior di kelas lain karena pengajaran tidak hanya diberikan secara
    kognitif semata.
     
    Selebihnya, hanya ada empat mata pelajaran pilihan lain yang disesuaikan
    dengan tujuan masa depan masing-masing. Bagi mereka yang bercita-cita
    menjadi dokter maka biologi dan ilmu kimia wajib dikuasai. Bagi yang akan
    menjadi insinyur wajib menguasai fisika dan kimia. Sedangkan bagi yang ingin
    menjadi ekonom wajib mendalami accounting, statistik dan ekonomi. Anak-anak
    yang ingin menjadi ekonom tak perlu belajar biologi dan fisika. Beda benar
    dengan anak-anak kita yang harus mengambil 16 mata pelajaran di tingkat SLTA
    di sini, dan semuanya diwajibkan lulus di atas Kriteria Ketuntasan Minimal
    (KKM).
     
    Bayangkan, bukankah cita-cita pembuat kurikulum itu orangnya hebat
    sekali? Mungkin dia manusia super. Seorang lulusan SLTA, tahun pertama
    harus menguasai 4 bidang science (biologi, ilmu kimia, fisika dan
    Matematika), lalu tiga bahasa (Bahasa Indonesia, Inggris dan satu bahasa
    lain), ditambah PPKN, sejarah, sosiologi, ekonomi, agama, geografi,
    kesenian, olahraga dan komputer. Hebat sekali bukan? Tidak mengherankan
    kalau sekolah menjadi sangat menakutkan, *stressful*, banyak korban
    kesurupan, terbiasa mencontek, dan sebagainya. Harus diakui kurikulum SLTA
    kita sangat berat. Sama seperti kurikulum program S1 dua puluh tahun yang
    lalu yang sejajar dengan program S1 yang digabung hingga S3 di Amerika.
    Setelah direformasi, kini anak-anak kita bisa lulus sarjana tiga tahun.
    Padahal dulu butuh lima tahun. Dulu program doktor menyelesaikan di atas
    100 SKS, makanya hampir tak ada yang lulus. Kini seseorang bisa lulus
    doktor dalam tiga tahun.
     
    Anda bisa saja mengatakan, dulu kita juga demikian tapi tak ada masalah kok!
    Di mana masalahnya? Masalahnya, saat ini banyak hal telah
    berubah. Teknologi telah merubah banyak hal, anak-anak kita dikepung
    informasi yang lebih bersifat pendalaman dan banyak pilihan, namun datang
    dengan lebih menyenangkan. Belajar bukan hanya dari guru, tapi dari segala
    *resources*. Ilmu belajar menjari lebih penting dari apa yang dipelajari itu
    sendiri, karena itu diperlukan lebih dari seorang pengajar, yaitu
    pendidik. Guru tak bisa lagi memberikan semua isi buku untuk dihafalkan,
    tetapi guru dituntut memberikan bagaimana hidup tanpa guru, *Lifelong
    learning.
    *
     
    Saya saksikan metode belajar telah jauh berubah. Seorang guru di West Lake
    Boys School di Auckland mengatakan, "Kami sudah meninggalkan *old ways
    teaching* sejak sepuluh tahun yang lalu. Makanya sekolah sekarang harus
    memberikan lebih banyak pilihan daripada paksaan. Percuma memberi banyak
    pengetahuan kalau tak bisa dikunyah. Guru kami ubah, metode diperbaharui,
    fasilitas baru dibangun," ujar seorang guru*.*
     
    Masih banyak yang ingin saya diskusikan, namun sampai di sini ada baiknya
    kita berefleksi sejenak. Untuk apa kita menciptakan sekolah, dan untuk apa
    kita bersekolah? Mudah-mudahan kita bisa mendiskusikan lebih dalam minggu
    depan dan semoga anak-anak kita mendapatkan masa depannya yang lebih baik.

     

    Sopril Amir <sopril@gmail.com> Jul 19 09:15AM +0700 ^
     
    Biar gayeng, ini aku kutipkan penilaian dua orang aktivis yang dulu rajin
    demo dan sekarang masih rajin belajar
    (1) artikel Daoed Joesoef | contoh opini usang nan basi, seorang intelektual
    borjuis-rongsokan, yang mempersoalkan moralitas bernegara melulu secara
    normatif, teleologis sekaligus ahisoris. Selalu enggan melihat deontologi
    etika politiknya (standar2 HaM), tidak dipersoalkan kapitalismenya, apalagi
    membahas struktur kelas2 sosial yang mendasari "zaman edan" itu. Tidak juga
    dipersoalkan sejarah kelam yg mengakibatkan "anonimitas" (alienasi?) itu
    terbentuk dalam modernitas negeri ini...
    mempertegas posisi politik si DJ sebagai intelektual borjuis-rongsokan.
     
    Yg saya sebut terakhir ini justru karena saya mengenal betul pemikiran2 DJ
    sejak beliau diangkat sbg Mendikbud, 1979, oleh engkong diktator Harto untuk
    melancarkan apa yang dikenal sebagai "Normalisasi Kehidupan Kampus" (NKK dgb
    BKKnya). Salah satu strategi politik zaman Orba untuk menghancurkan gerakan
    mahasiswa intra-kampus. Pemikiran dan kebijakan NKK/BKKnya beliau itu
    mencuplik pada pemikiran J.K. Gilbraith (was a Keynesian and an
    institutionalist, a leading proponent of 20th-century political liberalism
    http://en.wikipedia.org/wi
    ki/John_Kenneth_Galbraith<http://en.wikipedia.org/wiki/John_Kenneth_Galbraith>)
    tentang teknostruktur (dalam bukunya The New Industrial State (1967,
    http://en.wikipedia.org/wi​ki/The_New_Industrial_Stat
    e<http://en.wikipedia.org/wiki/The_New_Industrial_State>
    ).
     
    Menurut NKK/BKKnya si DJ, mahasiswa mempersiapkan diri menjadi teknokrat,
    dilarang berpolitik praktis (kalau masih 'berpolitik' di dalam kampus:
    dipecat! Di UI seorang Peter
    Sumariyoto<http://www.facebook.com/profile.php?id=1809099706> dipecat
    kemudian oleh Nugroho Notosusanto, di ITB, beberapa diskorsing a.l.: Aussie
    Gautama <http://www.facebook.com/aussie.gautama>(1979), yg diancam pemecatan
    a.l. Ibong Sjahroezah
    <http://www.facebook.com/profile.php?id=856934381> (1981);
    hingga beberapa tahun kemudian, 1989, puluhan mahasiswa dipecat dan
    dipenjara a.l.: Fadjroel
    Rachman<http://www.facebook.com/profile.php?id=1341211906>
    , Bambang Notodarmodjo <http://www.facebook.com/profile.php?id=1417384150>,
    dkk). Intinya, mahasiswa diandaikan tengah belajar di kampus (baca: menara
    gading). Setelah lulus harus mengisi jaringan teknokrasi sebagai
    sekrup-sekrup dari mesin negara untuk mereproduksi sistem kapitalisme.
     
    (2) Ada beberapa problem di dalam tulisannya, yang benar benar sangat
    dipengaruhi oleh fenomenologi. Salah satunya adalah dengan membaca segala
    sesuatunya dari gejala-gejala perilaku manusia, dan gejala-gejala itu
    diperlakukan sebagai sebuah sindroma individu manusia. Dia khawatir apabila
    gejala saling caci maki dan saling tak acuh di antara para pemimpin negara
    berpengaruh ke masyarakat. Sementara situasinya sudah semakin tidak bisa
    membedakan antara mana kawan dan mana lawan menurutnya, sambil mengutip
    Baumann yang sebenarnya juga sudah ditegaskan pula oleh Hannah Arendt.
    Benarkah situasinya seperti itu? Benar jika dilihat secara fenomena, seperti
    pengalaman Heidegger di medan perang, ataupun pengalaman para tentara
    Amerika di medan perang Vietnam. Seolah-olah manusia tiap harinya berada di
    tubir jurang meniti batas hidup dan mati, sampai yang di jakarta tidak
    pernah nongkrong di warung indomi telor. Buruh cuci setrika digambarkan
    penuh dengan upaya untuk terus mengasah ketrampilannya mencuci dan menstrika
    celana pantalon sampai licin dan tajam sekali lipatannya, sampai lipatan itu
    bisa dibuat buat sunat atau potong ayam. Begitu anaknya memasuki usia akil
    baliq dan harus disunat ia tidak pergi ke dokter atau ahli sunat, tetapiia
    menyunat anaknya sendiri dengan celana pantalon hasil setrikaannya. Hasilnya
    infeksi. Dia tidak pergi ke dokter untuk mengobati infeksi anaknya, karena
    kalau ke dokter nanti tidak lagi berada di tubir jurang. Eksistensinya
    terganggu. Jadi ngapain pula berhumanis humanis ria kalau memang problemnya
    hanya untuk kembali ke tubir jurang? Demikianlah oportunisme dari
    fenomenologi dan eksistensialisme, seolah olah menghargai sesama tetapi
    sebetulnya yang diperjuangkan adalah dirinya sendiri. Sejak awal manusia
    sudah dilepaskan dari relasi sosialnya, dan seolah-olah manusia menjadi
    humanis kalau sudah terdidik.
    Ini bukan rongsokan, tetapi emang jahat
     
    2011/7/18 Sulastama Raharja <rsulastama@gmail.com>
     
     
    --
    Sopril Amir

     

    Nurcahya Priyonugroho <anung.pnugroho@gmail.com> Jul 19 09:29AM +0700 ^
     
    > Biar gayeng, ini aku kutipkan penilaian dua orang aktivis yang dulu rajin
    > demo dan sekarang masih rajin belajar
     
    *** Kenapa yang dipersoalkan adalah "kelakuan" DJ yang terdahulu,
    bukan pendapatnya yang sekarang?
    SOL
     
    -Anung-

     

--
+++
Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
Transfer ke:
1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
+++
Loading...