Grup: http://groups.google.com/group/alumniUGM/topics
- (Film): 'The Deathly Hallows: Part 2': Akhir 10 TahunPerjalanan Harry Potter [4 Pemutakhiran]
- Beasiswa Fak Kedokteran di Luar Negeri [1 Pemutakhiran]
- JOMBLOWAN/I [12 Pemutakhiran]
- Benarkah Semakin Berat, Semakin Hebat? [1 Pemutakhiran]
- Salah satu contoh lowongan kerja (UGM kok gak dianggap ) [4 Pemutakhiran]
- Sekolah Untuk Apa [1 Pemutakhiran]
- [Daoed Joesoef]: Moralitas di Zaman Edan [2 Pemutakhiran]
- Irvan Kristanto <irvankristanto@gmail.com> Jul 19 07:22AM +0700 ^
Sebenarnya ada beberapa film Indonesia yang bagus, tapi ya, males ke bioskop
krn gak lengkap rasanya...
Surat Kecil Untuk Tuhan?, itu bagus sepertinya.....
Iya.. Kungfu panda 2.... juga masuk daftar incaran.... mungkin harus ke
twomanggoes buat cari dvd bajakan....
@Mbak Rury... iya, Ron Weasley sangat lucu.... dan cintanya ke Hermione
sangat bagus pengadeganannya dari seri2 awal
irvan
2011/7/19 <suryabudiariyadi@gmail.com>
- Ruri Anitasari <r.anitasari@gmail.com> Jul 19 09:41AM +0700 ^
Hohohohoho...
omong" tentang bajaken,
semalem abis ngambassador, dan udah dapet Kungfu Panda 2, X-Men 5, dan Fast
5 copy ori :D
gambar Ok, subtitle juga OK :D
Yang mau Cars 2 juga udah ok, pirates belum :(
Semalem juga ditawarin transformer 3, katanya dah bagus
tapi karena mau nunggu di bioskop, ga nyobain :D
Thanks
Regards,
Ruri
2011/7/19 Irvan Kristanto <irvankristanto@gmail.com>
- samuel_sahata@yahoo.com Jul 19 02:50AM ^
The deathly hallows Part 2 kmrn kbtulan baru nonton
Seru juga filmnya, cerita nya bagus dan efeknya jg ok,cmn klo dibandingkan novelnya g bgitu paham karena blm baca he3x
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
-----Original Message-----
From: suryabudiariyadi@gmail.com
Sender: alumniugm@googlegroups.com
Date: Mon, 18 Jul 2011 17:12:25
To: <alumniugm@googlegroups.com>
Reply-To: alumniugm@googlegroups.com
Subject: Re: [kagama] (Film): 'The Deathly Hallows: Part 2': Akhir 10
TahunPerjalanan Harry Potter
Film ini yg paling sy tunggu. Di urutan ke-2 & 3 ada Transformer 3 dan kungfu panda 2.
Muak banget dg film2 Indo yg isinya hantu2 porno ga bermutu. Gmn bs berkembang perfilman kita kalo isinya film otak kancut.
Film2 Indo spt laskar pelangi, ayat2 cinta, itulah yg perlu dikembangkan bukan film2 yg berlomba2 mendatangkan artis porno.ckckck..
Kl msh bgini industri bioskop akan laris manis tutup tikar & industri pembajakan yg akan semakin berkembang & diminati. Lah drpd mahal2 nntn d singapore mending beli bajakan. Yg kualitas bagus kan jg ada :p..
Rrgards,
SBA
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
--
+++
Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
Transfer ke:
1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
+++
- vriovia@kagamavirtual.com Jul 19 02:55AM ^
Wah mantabs tu transformer. Pertempuraan abis2 an. Jalan cerita nya juga bagus.tapi lama ne poll
valdi riovia
BRI Pandeglang/FKT 96
-----Original Message-----
From: Ruri Anitasari <r.anitasari@gmail.com>
Sender: alumniugm@googlegroups.com
Date: Tue, 19 Jul 2011 09:41:36
To: <alumniugm@googlegroups.com>
Reply-To: alumniugm@googlegroups.com
Subject: Re: [kagama] (Film): 'The Deathly Hallows: Part 2': Akhir 10
TahunPerjalanan Harry Potter
Hohohohoho...
omong" tentang bajaken,
semalem abis ngambassador, dan udah dapet Kungfu Panda 2, X-Men 5, dan Fast
5 copy ori :D
gambar Ok, subtitle juga OK :D
Yang mau Cars 2 juga udah ok, pirates belum :(
Semalem juga ditawarin transformer 3, katanya dah bagus
tapi karena mau nunggu di bioskop, ga nyobain :D
Thanks
Regards,
Ruri
2011/7/19 Irvan Kristanto <irvankristanto@gmail.com>
--
+++
Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
Transfer ke:
1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
+++
- Armien Dwi Susanti Kusdarwanto <armien_kusdarwanto@yahoo.co.id> Jul 19 10:58AM +0800 ^
Mas2 dan Mbak2 Kagamaer semua,
Keponakan saya tahun ini belum lolos sebagai mahasiswa,dan kencengnya pengin Kedokteran,ortunya lagi kalang-kabut nyariin Universitas,adakah info tuk mendapatkan beasiswa Fak Kedokteran di LN ato berapa biaya yang dibutuhkan jika tanpa beasiswa,terimakasih infonya.
Salam,
Armien.
Topik: JOMBLOWAN/I
- arianto_rizki@yahoo.com Jul 19 01:21AM ^
Perkenalkan saya YSA,27 thn,jomblo ganteng dgn tinggi 170 cm BB 55 kg,warna kulit sawo mateng,level kegantengan setara Brad Pit dan jauh diatas level kegantengan Jimmy Mboe,
*********
Dengan spec seperti diatas, kok masih jomblo ya?? Dipertanyakan nih..hahahahaha..
Piss ah :)
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
-----Original Message-----
From: ysanst@kagamavirtual.com
Sender: alumniugm@googlegroups.com
Date: Tue, 19 Jul 2011 01:08:54
To: <alumniugm@googlegroups.com>
Reply-To: alumniugm@googlegroups.com
Subject: Re: [kagama] JOMBLOWAN/I
Topik dirubah, monggo
Smy 73
------------------------
Perkenalkan saya YSA,27 thn,jomblo ganteng dgn tinggi 170 cm BB 55 kg,warna kulit sawo mateng,level kegantengan setara Brad Pit dan jauh diatas level kegantengan Jimmy Mboe,memimpikan pasangan minimal secantik Dian Sastro..huahahahahahaha
Yassir
Iwak-02
Powered by Telkomsel BlackBerry®
--
+++
Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
Transfer ke:
1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
+++
- vriovia@kagamavirtual.com Jul 19 01:23AM ^
Tenaang fpi wis ono proyek dewe mas, buat pemilukada dki.
valdi riovia
BRI Pandeglang/FKT 96
-----Original Message-----
From: Moh Budiono Santoso <mohbudiono.santoso@gmail.com>
Sender: alumniugm@googlegroups.com
Date: Tue, 19 Jul 2011 08:21:08
To: <alumniugm@googlegroups.com>
Reply-To: alumniugm@googlegroups.com
Subject: Re: [kagama] Liku-Liku Laki-Laki Tak Laku-Laku
iya juga yah.....hahhahha...
enggak deh, daripada nti digebukin massa dan didatangin FPI......
2011/7/19 Irvan Kristanto <irvankristanto@gmail.com>
> 2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL ,
> 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
> +++
--
Best Regards,
Moh. Budiono Santoso
--
+++
Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
Transfer ke:
1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
+++
- Irvan Kristanto <irvankristanto@gmail.com> Jul 19 08:24AM +0700 ^
Belum menemukan pasangan sekelamin .... hi hi hi.....
2011/7/19 <arianto_rizki@yahoo.com>
- ariefprihantoro@kagamavirtual.com Jul 19 01:25AM ^
Kalau disini ndak boleh melucu Sir. Disini forum diskusi serius.
Salam,
Arief Prihantoro
-----Original Message-----
From: ysanst@kagamavirtual.com
Sender: alumniugm@googlegroups.com
Date: Tue, 19 Jul 2011 01:16:58
To: <alumniugm@googlegroups.com>
Reply-To: alumniugm@googlegroups.com
Subject: Re: [kagama] JOMBLOWAN/I
Yassir setara Brad Pitt jengki apa Brad Pitt kebo ?
Salam,
Arief Prihantoro
---------------------------
Halah,ayo pasarkan dirimu,selucu mungkin..huahahaha..
Selamat pagi semua,awali hari dengan senyum..sukses2
Yassir
Iwak-02
Powered by Telkomsel BlackBerry®
--
+++
Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
Transfer ke:
1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
+++
- ariefprihantoro@kagamavirtual.com Jul 19 01:29AM ^
Dengan spec seperti diatas, kok masih jomblo ya?? Dipertanyakan nih..hahahahaha..
---------------
Yassir sengaja nunggu ngakik dulu. Bahkan kata dia kemarin nunggu jadi intan dulu, jadi itu alasannya menjomblo.
Salam,
Arief Prihantoro
- ysanst@kagamavirtual.com Jul 19 01:34AM ^
Body ideal tapi kalo Bau Badan 55 kg..sapa yg berani deket..hahaha..harus dimandiin di tujuh sumur tuh...hahaha..
jimmymboe@gmail.com
----------------------------------
Ini fitnah sodara-sodara...saya akan minta kuasa hukum saya menyelesaikan d jalur busway..
Yassir
Iwak-02
Powered by Telkomsel BlackBerry®
- Irvan Kristanto <irvankristanto@gmail.com> Jul 19 08:37AM +0700 ^
fakta hukumnya apa ya?
2011/7/19 <ysanst@kagamavirtual.com>
- ysanst@kagamavirtual.com Jul 19 01:49AM ^
fakta hukumnya apa ya?
irvankristanto@gmail.com
------------------
Nanti bisa tanya pengacara saya,hahaha asline yo ra ngerti..
Yassir
Iwak-02
Powered by Telkomsel BlackBerry®
- "Milona Ilza Sakantira" <milonasakantira@kagamavirtual.net> Jul 19 01:40AM ^
Jomblo..?? Yoiii.. Saya jomblo bin single.. Dan saya tetep bahagia. Mana nih temen2 geng "IJO LUMUT" yg lain ..??
Salam
-Milona-
Sent from my MiloBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Alhamdulilah Nyambung Teyyuuusss...!
- Sumuyut Sarjono <sumuyut.sarjono@jobpps.com> Jul 19 01:46AM ^
Silahkan kopdar JOMBLOWAN/TI, sebelum puasa siapa tahu ada yang cocok satu kampus lagi
Jangan kelamaan NJOMBLO, jangan nyari dengan syarat A -Z ( maaf ya ) ha he ho ........ MONGGGO
Komporwan
Smy 73
-----Original Message-----
From: alumniugm@googlegroups.com [mailto:alumniugm@googlegroups.com] On Behalf Of Milona Ilza Sakantira
Sent: 19 Juli 2011 8:40
To: alumniugm@googlegroups.com
Subject: Re: [kagama] JOMBLOWAN/I
Jomblo..?? Yoiii.. Saya jomblo bin single.. Dan saya tetep bahagia. Mana nih temen2 geng "IJO LUMUT" yg lain ..??
Salam
-Milona-
Sent from my MiloBerry(r) smartphone from Sinyal Bagus XL, Alhamdulilah Nyambung Teyyuuusss...!
--
+++
Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
Transfer ke:
1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir - BCA 5530247734 - KCP Otista
2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
+++
- norha_sweety@yahoo.com Jul 19 03:15AM ^
Budhe milo....
I'm here....
*nah lho*
#Ikut-ikutan nimbrung#
Powered by Telkomsel BlackBerry®
-----Original Message-----
From: "Milona Ilza Sakantira" <milonasakantira@kagamavirtual.net>
Sender: alumniugm@googlegroups.com
Date: Tue, 19 Jul 2011 01:40:22
To: <alumniugm@googlegroups.com>
Reply-To: alumniugm@googlegroups.com
Subject: Re: [kagama] JOMBLOWAN/I
Jomblo..?? Yoiii.. Saya jomblo bin single.. Dan saya tetep bahagia. Mana nih temen2 geng "IJO LUMUT" yg lain ..??
Salam
-Milona-
Sent from my MiloBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Alhamdulilah Nyambung Teyyuuusss...!
--
+++
Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
Transfer ke:
1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
+++
- umigita@gmail.com Jul 19 03:03AM ^
Ya simbah sumuyut yang memfasilitasi gimana?
Ntar simbah sumuyut kaya matchactually hehehe
Salam,
Umi gita
Powered by Telkomsel BlackBerry®
-----Original Message-----
From: Sumuyut Sarjono <sumuyut.sarjono@jobpps.com>
Sender: alumniugm@googlegroups.com
Date: Tue, 19 Jul 2011 01:46:23
To: alumniugm@googlegroups.com<alumniugm@googlegroups.com>
Reply-To: alumniugm@googlegroups.com
Subject: RE: [kagama] JOMBLOWAN/I
Silahkan kopdar JOMBLOWAN/TI, sebelum puasa siapa tahu ada yang cocok satu kampus lagi
Jangan kelamaan NJOMBLO, jangan nyari dengan syarat A -Z ( maaf ya ) ha he ho ........ MONGGGO
Komporwan
Smy 73
-----Original Message-----
From: alumniugm@googlegroups.com [mailto:alumniugm@googlegroups.com] On Behalf Of Milona Ilza Sakantira
Sent: 19 Juli 2011 8:40
To: alumniugm@googlegroups.com
Subject: Re: [kagama] JOMBLOWAN/I
Jomblo..?? Yoiii.. Saya jomblo bin single.. Dan saya tetep bahagia. Mana nih temen2 geng "IJO LUMUT" yg lain ..??
Salam
-Milona-
Sent from my MiloBerry(r) smartphone from Sinyal Bagus XL, Alhamdulilah Nyambung Teyyuuusss...!
--
+++
Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
Transfer ke:
1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir - BCA 5530247734 - KCP Otista
2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
+++
--
+++
Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
Transfer ke:
1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
+++
- Arif Perdana <arifperdana@gmail.com> Jul 19 09:49AM +0700 ^
Benarkah Semakin Berat, Semakin Hebat?
Rhenald Kasali
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/412716/44/
Sebagian besar pembaca, mungkin dibesarkan dalam kultur ekonomi yang sulit
sehingga kaya dengan berbagai peribahasa seperti: Hemat Pangkal Kaya dan
Rajin Pangkal Pandai. Kita bermain layang-layang di antara pematang sawah
yang tiada batasnya, menangkap belut di antara lumpur-lumpur sungai yang
airnya bening, bermain bersama anak-anak kampung dengan tiada henti canda,
tawa, dan keringat.
Bagaimana anak-anak kita sekarang? Lahan-lahan kosong telah berganti
menjadi kebun sawit atau perumahan mewah. Tak ada lagi lapangan badminton,
arena bermain layang-layang dan air yang mengalir bening. Pestisida dan
pupuk kimia merusak tanah. Tapi anak-anak punya mainan baru, Facebook,
Twitter, *online games*, warnet, dan bimbel. Pergaulan fisik diganti oleh
dunia maya, statistic, dan ilmu berhitung diganti kalkulator dan *software*.
Dulu kita hanya belajar sembilan mata pelajaran sehingga masih banyak waktu
untuk bermain. Bagaimana anak-anak kita?
Bukannya dikurangi, tetapi semakin hari yang dipaksakan masuk ke dalam otak
anak-anak kita semakin banyak. Sewaktu saya menulis "Sekolah Untuk Apa?"
minggu lalu, saya menyebut anak saya di kelas sepuluh diharuskan menuntaskan
16 mata pelajaran, seorang ibu menyurati saya karena anaknya yang belajar
di MI diwajibkan tuntas 23 mata pelajaran. Sementara di New Zealand dan
banyak negara maju anak-anak sekolah hanya mengambil 6 mata pelajaran.
Ketika mereka menganut *spirit* "*The Power of Simplicity*", kita justru
tenggelam dalam *spirit* benang kusut, "kalau terlalu mudah tidak akan
melahirkan kehebatan".
Bukan hanya itu, di banyak negara selain dirampingkan, mata ajar wajib juga
dibatasi hanya dua, selebihnya dijadikan pilihan yang dikaitkan dengan
karier masa depan. Bagaimana di sini? Mata ajar yang banyak itu adalah
mata ajar yang "sakral", wajib diambil semuanya. Kesakralan itu sesungguhnya
hanya semu saja, karena mata ajar agama disamakan dengan berhitung dan
sejarah ala kita, yaitu ala hafal-hafalan. Bukan belajar dari sejarah,
tetapi pengetahuan tentang sejarah. Bukan akhlak dan moral dalam beragama,
melainkan hafalan ayat. Dan bukan logika matematika, melainkan bagaimana
menurunkan rumus. Lengkaplah penderitaan anak-anak kita.
*Ubah Cara Pandang*
Namun sewaktu saya bercerita bagaimana sekolah di Belanda, Cina, dan New
Zealand, ada juga orang tua yang protes. Mereka tak menginginkan sekolahnya
dibuat lebih mudah. "Sekolah itu memang harus sulit dan anak-anak harus
berjuang,". Kalau dibuat mudah, bagi orang tua ini, maka sekolah tak akan
menghasilkan apa-apa. Saya dapat mengerti pandangan ini karena anaknya
termasuk anak yg cerdas, tuntas semua mata pelajaran dengan nilai tinggi.
Namun saya kurang mengerti bagaimana orangtua rela menyita seluruh waktu
masa muda anaknya hanya untuk belajar.
Mendidik bukanlah untuk melahirkan orang-orang yang bingung, tahu semua tapi
selalu bertanya "saya harus melakukan apa?" ini adalah realita, semakin
banyak ditemui orang yang tak bisa bekerja dengan prioritas. Anda mungkin
pernah mendengar ucapan Stephen Covey, "Dahulukanlah Yang Utama". Atau
seperti kata Maxwell, "Bekerjalah dengan prioritas karena 80% hasil yang
engkau capai hanya berasal dari 20% upayamu." Orang yang ingin menuntaskan
semua tugas (dan banyak) bisa bagus di ijazah tapi bisa bingung dalam
kehidupan. Kata para ulama, kesempurnaan hanyalah milik Tuhan. Tetapi
seperti Michael Jackson yang sudah sempurna, manusia selalu ingin lebih
sempurna lagi, sampai akhirnya rusaklah wajah, tubuh dan kesehatan jiwanya.
Saya juga kurang mengerti kalau pendidik kurang memahami bahwa talenta dan *
leadership* merupakan kunci untuk mencapai keberhasilan hidup. Untuk itulah
talenta harus diasah, diberi ruang ,dan waktu agar ia tumbuh .
*Leadership*maupun
*entrepreneurship* diasah dari keseharian di luar bangku sekolah. Diuji
dalam interaksi kehidupan.
Tentu saya bertanya-tanya kalau pendidikan kita dibuat lebih ramping apakah
benar menjadi lebih baik. Saya selalu teringat masa-masa memulai karir
sebagai penguji di program S3. Saat seorang tua, kandidat doktor diuji,
yang mengajukan pertanyaan ada 13 orang hebat. Namanya juga orang hebat,
pertanyaannya pasti sulit bagi seorang pemula. Tetapi Semua penguji tidak
puas, kandidat digoreng kekiri, diongseng ke kanan hingga nyaris hangus. Di
ruang rapat semua menyatakan tidak puas. Sebagai doktor muda yang baru
kembali dari sekolah doktor saya tak punya suara yang berarti. Saya hanya
bertanya,"beginikah cara bapak-bapak menguji seorang calon doktor?"
Semua orang terdiam, dan saya pun terkejut dengan pertanyaan saya. Beberapa
orang menatap tajam, karena mereka adalah mantan guru-guru saya dan terkenal
di hadapan publik. Karena malu telah berta-kata bodoh, saya teruskan saja
berkata jujur. Saya katakan kita harus percaya diri. Ujian dengan penguji
sebanyak ini menunjukkan kita kurang pede. Lagi pula tak ada yang bisa lulus
dengan ujian seperti ini. Semua dosen hanya marah-marah karena
kepintarannya tak dimengerti orang lain, dan memberi saran yang saling
bertentangan.
Sayapun mengatakan andaikan saya yang diuji di sini, saya berani jamin saya
pun tidak akan lulus. Pertanyaan ujian terlalu luas. Di Amerika Serikat,
kita hanya diuji oleh empat orang pembimbing, dan bila kita bingung, kita
tidak dibantai, malah dibantu. Di Indonesia, kalau kita membantu mahasiswa
kita dianggap berkolusi. Di SLTA negara-negara maju, jumlah mata ajar
memang ramping, tetapi sejak remaja mereka sudah biasa membuat makalah
dengan kedalaman referensi dan terbiasa bekerja dengan metode ilmiah.
Demikianlah persekolahan kita. Bukannya disederhanakan, justru dibuat
menjadi lebih kompleks. Semua mata ajar kita anggap sakral. Buku ditambah.
Subjek ditambah. Guru juga ditambah. Saya kadang tak habis berpikir,
bagaimana kita bisa menghasilkan kehebatan dari keribetan ini.
Saya tentu tak akan protes kalau dengan sekolah yang ditempa kesulitan ini
kita bisa pergi ke bulan. Fakta menunjukkan sebaliknya. Bahkan TKW yang
Sekolah Dasarnya ditempuh dengan sama beratnya dengan para dokter saja hanya
berakhir di ujung kesulitan. Tidakkah kita bertanya, jangan-jangan ada yang
tidak beres dengan kurikulum persekolahan kita?
Saya juga bertanya-tanya, akankah anak-anak dididik dengan baik kalau hanya
belajar 6 mata pelajaran seperti di New Zealand, Denmark atau negara-negara
industri lainnya? Namun fakta yang saya temui, ternyata pendidikan yang
hanya fokus pada enam mata pelajaran itu menempatkan pendidikan New Zealand
terbaik keenam di dunia. Rasanya di sana juga tak ada siswa yang kesurupan
saat ujian, apalagi contekan massal. Perlukah kita meremajakan cara
berpikir kita?
- Yulianto Eko Rakhmat <eko.rakhmat@gmail.com> Jul 19 08:55AM +0700 ^
Hukum yang bagus ya dari UII dan UGM....
silahkan menyimpulkan sendiri.....
2011/7/18 <dipo_cahyono@yahoo.com>
- jimmymboe@gmail.com Jul 19 02:15AM ^
Hukum UGM kurang handal & kurang luwes dlm hal sogok menyogok...hehehe..
Powered by Telkomsel BlackBerry®
-----Original Message-----
From: Yulianto Eko Rakhmat <eko.rakhmat@gmail.com>
Sender: alumniugm@googlegroups.com
Date: Tue, 19 Jul 2011 08:55:48
To: <alumniugm@googlegroups.com>
Reply-To: alumniugm@googlegroups.com
Subject: Re: [kagama] Salah satu contoh lowongan kerja (UGM kok gak dianggap )
Hukum yang bagus ya dari UII dan UGM....
silahkan menyimpulkan sendiri.....
2011/7/18 <dipo_cahyono@yahoo.com>
--
+++
Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
Transfer ke:
1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
+++
- Nurcahya Priyonugroho <anung.pnugroho@gmail.com> Jul 19 09:32AM +0700 ^
> Hukum UGM kurang handal & kurang luwes dlm hal sogok menyogok...hehehe..
*** Mudah-mudahan, bukan berarti sogokan dari UGM kurang banyak...
tapi bener-bener berarti kalo dari UGM itu pantang menyogok, baik
besar maupun kecil :-)
-Anung-
- "Kang Esha" <drsupantahadi@gmail.com> Jul 19 02:52AM ^
Hukum dari ugm nggak terlalu lurus.. Nggak bisa diajak main mata... Apa yyang bisa dibuat oleh teman2 ugm kalau begini...
Powered by Telkomsel BlackBerry®
-----Original Message-----
From: Nurcahya Priyonugroho <anung.pnugroho@gmail.com>
Sender: alumniugm@googlegroups.com
Date: Tue, 19 Jul 2011 09:32:44
To: <alumniugm@googlegroups.com>
Reply-To: alumniugm@googlegroups.com
Subject: Re: [kagama] Salah satu contoh lowongan kerja (UGM kok gak dianggap )
> Hukum UGM kurang handal & kurang luwes dlm hal sogok menyogok...hehehe..
*** Mudah-mudahan, bukan berarti sogokan dari UGM kurang banyak...
tapi bener-bener berarti kalo dari UGM itu pantang menyogok, baik
besar maupun kecil :-)
-Anung-
--
+++
Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
Transfer ke:
1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
+++
Topik: Sekolah Untuk Apa
- Arif Perdana <arifperdana@gmail.com> Jul 19 09:45AM +0700 ^
Patut menjadi renungan pra pembuat kurikulum dan kebijakan pendidikan di
Indonesia.
Sekolah Untuk Apa (Rhenald Kasali)
Beberapa hari ini kita membaca berita betapa sulitnya anak-anak kita mencari
sekolah. Masuk universitas pilihan, susahnya setengah mati. Kalaupun
diterima, bak lolos dari lubang jarum. Sudah masuk, ternyata banyak yang
"salah kamar". Sudah sering saya mengajak dialog mahasiswa yang bermasalah
dalam perkuliahan yang begitu digali selalu mengatakan mereka masuk jurusan
yang salah.
Demikianlah, diterima di PTN masalah, tidak diterima juga masalah. Kalau
ada uang bisa kuliah di mana saja. Bagaimana kalau uang tak ada? Hampir
semua orang ingin menjadi sarjana, bahkan masuk program S2. Jadi birokrat
atau jendral pun, sekarang banyak yang ingin punya gelar S3. Persoalan
seperti itu saya hadapi waktu lulus SMA tiga puluh tahun yang lalu, dan
ternyata masih menjadi masalah hari ini. Bahkan sekarang, memilih SMP dan
SMA pun sama sulitnya.
Mengapa hanya soal memindahkan anak karena pindah rumah ke sekolah negeri
lain saja biayanya begitu besar? Padahal bangku sekolah masih banyak yang
kosong. Masuk sekolah susah, pindah juga sulit, diterima di perguruan
tinggi untung-untungan, cari kerja susahnya minta ampun. Lengkap sudah
masalah kita.
Kalau kita sepakat sekolah adalah jembatan untuk mengangkat kesejahteraan
dan daya saing bangsa, mengapa dibuat sulit? Lantas apa yang harus
dilakukan orang tua? Jadi sekolah untuk apa di negeri yang serba sulit
ini?
*Kesadaran Membangun SDM*
Lebih dari 25 tahun yang lalu, saat berkuasa, PM Malaysia Mahathir Mohammad
sadar betul pentingnya pembangunan SDM. Ia pun mengirim puluhan ribu
sarjana mengambil gelar S2 dan S3 ke berbagai negara maju. hal serupa juga
dilakukan China. Tidak sampai sepuluh tahun, lulusan terbaik itu sudah siap
mengisi perekonomian negara. Hasilnya anda bisa lihat sekarang. BUMN di
negara itu dipimpin orang-orang hebat, demikian pula perusahaan swasta dan
birokrasinya.
Perubahan bukan hanya sampai di situ. Orang-orang muda yang kembali ke
negerinya secara masif me-*reform* sistem pendidikan. Tradisi lama yang
terlalu kognitif dibongkar. *Old ways teaching* yang terlalu berpusat pada
guru dan papan tulis, serta peran *brain memory *(hafalan dan rumus) yang
dominan mulai ditinggalkan. Mereka membongkar kurikulum, memperbaiki metode
pengajaran, dan seterusnya. Tak mengherankan kalau sekolah-sekolah di
berbagai belahan dunia pun mulai berubah.
Di negeri Belanda saya sempat terbengong-bengong menyaksikan bagaimana
universitas seterkenal Erasmus begitu mudah menerima mahasiswa. "Semua
warga negara punya hak untuk mendapat pendidikan yang layak, jadi mereka
yang mendaftar harus kami terima," ujar seorang dekan di Erasmus. Beda
benar dengan universitas negeri kita yang diberi *privilege* untuk mencari
dan mendapatkan lulusan SLTA yang terbaik. Seleksinya sangat ketat.
Lantas bagaimana membangun bangsa dari lulusan yang asal masuk ini? "Mudah
saja," ujar dekan itu. "Kita potong di tahun kedua. Masuk tahun kedua,
angka drop out tinggi sekali. Di sinilah kita baru bicara kualitas, sebab
walaupun semua orang bicara hak, soal kemampuan dan minat bisa membuat masa
depan berbeda,"ujarnya.
Hal senada juga saya saksikan hari-hari ini di New Zealand. Meski
murid-murid yang kuliah sudah dipersiapkan sejak di tingkat SLTA, angka drop
out mahasiswa tahun pertama cukup tinggi. Mereka pindah ke politeknik yang
hanya butuh satu tahun kuliah.
Yang lebih mengejutkan saya adalah saat memindahkan anak bersekolah di
tingkat SLTA di New Zealand. Sekolah yang kami tuju tentu saja sekolah yang
terbaik, masuk dalam sepuluh besar nasional dengan fasilitas dan guru yang
baik. Saya menghabiskan waktu beberapa hari untuk mewancarai lulusan
sekolah itu masing-masing, ikut tour keliling sekolah, menanyakan kurikulum
dan mengintip bagaimana pelajaran diajarkan. Di luar dugaan saya, pindah
sekolah ke sini pun ternyata begitu mudah.
Sudah lama saya gelisah dengan metode pembelajaran di sekolah-sekolah kita
yang terlalu kognitif, dengan guru-guru yang merasa hebat kalau muridnya
bisa dapat nilai rata-rata diatas 80 (betapapun stressnya mereka) dan
sebaliknya memandang rendah terhadap murid aktif namun tak menguasai semua
subjek. Potensi anak hanya dilihat dari nilai, yang merupakan cerminan
kemampuan mengkopi isi buku dan cacatan. Entah dimana keguruan itu muncul
kalau sekolah tak mengajarkan *critical thinking*. Kita mengkritik lulusan
yang biasa membebek, tapi tak berhenti menciptakan bebek-bebek dogmatik.
Kalau lulusannya mudah diterima di sekolah yang baik di luar negri, mungkin
guru-guru kita akan menganggap sekolahnya begitu bagus. Mohon maaf,
ternyata tidak demikian. Jangankan dibaca, diminta transkrip nilainya pun
tidak. Maka jangan heran, anak dari daerah terpencil pun di Indonesia, bisa
dengan mudah diterima di sekolah yang baik di luar negeri. Bahkan tanpa
tes. Apa yang membuat demikian? "undang-undang menjamin semua orang punya
hak yang sama untuk belajar," ujar seorang guru di New Zealand.
Lantas, bukankah kualitas lulusan ditentukan *input*nya? "itu ada benarnya,
tapi bukan segala-galanya," ujar putera sulung saya yang kuliah di Auckland
University tahun ketiga. Maksudnya, test masuk tetap ada, tetapi hanya
dipakai untuk penempatan dan kualifikasi.
Di tingkat SLTA, mereka hanya diwajibkan mengambil dua mata pelajaran wajib
(*compulsory*) yaitu matematika dan bahasa Inggris. Pada dua mata pelajaran
ini pun mereka punya tiga kategori: akselerasi, rata-rata, dan yang masih
butuh bimbingan. Sekolah dilarang hanya menerima anak-anak bernilai akademik
tinggi karena dapat menimbulkan guncangan karakter pada masa depan anak,
khususnya sifat-sifat superioritas, arogansi, dan kurang empati. Mereka
hanya super dikedua kelas itu, di kelas lain mereka berbaur. Dan belum tentu
superior di kelas lain karena pengajaran tidak hanya diberikan secara
kognitif semata.
Selebihnya, hanya ada empat mata pelajaran pilihan lain yang disesuaikan
dengan tujuan masa depan masing-masing. Bagi mereka yang bercita-cita
menjadi dokter maka biologi dan ilmu kimia wajib dikuasai. Bagi yang akan
menjadi insinyur wajib menguasai fisika dan kimia. Sedangkan bagi yang ingin
menjadi ekonom wajib mendalami accounting, statistik dan ekonomi. Anak-anak
yang ingin menjadi ekonom tak perlu belajar biologi dan fisika. Beda benar
dengan anak-anak kita yang harus mengambil 16 mata pelajaran di tingkat SLTA
di sini, dan semuanya diwajibkan lulus di atas Kriteria Ketuntasan Minimal
(KKM).
Bayangkan, bukankah cita-cita pembuat kurikulum itu orangnya hebat
sekali? Mungkin dia manusia super. Seorang lulusan SLTA, tahun pertama
harus menguasai 4 bidang science (biologi, ilmu kimia, fisika dan
Matematika), lalu tiga bahasa (Bahasa Indonesia, Inggris dan satu bahasa
lain), ditambah PPKN, sejarah, sosiologi, ekonomi, agama, geografi,
kesenian, olahraga dan komputer. Hebat sekali bukan? Tidak mengherankan
kalau sekolah menjadi sangat menakutkan, *stressful*, banyak korban
kesurupan, terbiasa mencontek, dan sebagainya. Harus diakui kurikulum SLTA
kita sangat berat. Sama seperti kurikulum program S1 dua puluh tahun yang
lalu yang sejajar dengan program S1 yang digabung hingga S3 di Amerika.
Setelah direformasi, kini anak-anak kita bisa lulus sarjana tiga tahun.
Padahal dulu butuh lima tahun. Dulu program doktor menyelesaikan di atas
100 SKS, makanya hampir tak ada yang lulus. Kini seseorang bisa lulus
doktor dalam tiga tahun.
Anda bisa saja mengatakan, dulu kita juga demikian tapi tak ada masalah kok!
Di mana masalahnya? Masalahnya, saat ini banyak hal telah
berubah. Teknologi telah merubah banyak hal, anak-anak kita dikepung
informasi yang lebih bersifat pendalaman dan banyak pilihan, namun datang
dengan lebih menyenangkan. Belajar bukan hanya dari guru, tapi dari segala
*resources*. Ilmu belajar menjari lebih penting dari apa yang dipelajari itu
sendiri, karena itu diperlukan lebih dari seorang pengajar, yaitu
pendidik. Guru tak bisa lagi memberikan semua isi buku untuk dihafalkan,
tetapi guru dituntut memberikan bagaimana hidup tanpa guru, *Lifelong
learning.
*
Saya saksikan metode belajar telah jauh berubah. Seorang guru di West Lake
Boys School di Auckland mengatakan, "Kami sudah meninggalkan *old ways
teaching* sejak sepuluh tahun yang lalu. Makanya sekolah sekarang harus
memberikan lebih banyak pilihan daripada paksaan. Percuma memberi banyak
pengetahuan kalau tak bisa dikunyah. Guru kami ubah, metode diperbaharui,
fasilitas baru dibangun," ujar seorang guru*.*
Masih banyak yang ingin saya diskusikan, namun sampai di sini ada baiknya
kita berefleksi sejenak. Untuk apa kita menciptakan sekolah, dan untuk apa
kita bersekolah? Mudah-mudahan kita bisa mendiskusikan lebih dalam minggu
depan dan semoga anak-anak kita mendapatkan masa depannya yang lebih baik.
- Sopril Amir <sopril@gmail.com> Jul 19 09:15AM +0700 ^
Biar gayeng, ini aku kutipkan penilaian dua orang aktivis yang dulu rajin
demo dan sekarang masih rajin belajar
(1) artikel Daoed Joesoef | contoh opini usang nan basi, seorang intelektual
borjuis-rongsokan, yang mempersoalkan moralitas bernegara melulu secara
normatif, teleologis sekaligus ahisoris. Selalu enggan melihat deontologi
etika politiknya (standar2 HaM), tidak dipersoalkan kapitalismenya, apalagi
membahas struktur kelas2 sosial yang mendasari "zaman edan" itu. Tidak juga
dipersoalkan sejarah kelam yg mengakibatkan "anonimitas" (alienasi?) itu
terbentuk dalam modernitas negeri ini...
mempertegas posisi politik si DJ sebagai intelektual borjuis-rongsokan.
Yg saya sebut terakhir ini justru karena saya mengenal betul pemikiran2 DJ
sejak beliau diangkat sbg Mendikbud, 1979, oleh engkong diktator Harto untuk
melancarkan apa yang dikenal sebagai "Normalisasi Kehidupan Kampus" (NKK dgb
BKKnya). Salah satu strategi politik zaman Orba untuk menghancurkan gerakan
mahasiswa intra-kampus. Pemikiran dan kebijakan NKK/BKKnya beliau itu
mencuplik pada pemikiran J.K. Gilbraith (was a Keynesian and an
institutionalist, a leading proponent of 20th-century political liberalism
http://en.wikipedia.org/wi
ki/John_Kenneth_Galbraith<http://en.wikipedia.org/wiki/John_Kenneth_Galbraith>)
tentang teknostruktur (dalam bukunya The New Industrial State (1967,
http://en.wikipedia.org/wiki/The_New_Industrial_Stat
e<http://en.wikipedia.org/wiki/The_New_Industrial_State>
).
Menurut NKK/BKKnya si DJ, mahasiswa mempersiapkan diri menjadi teknokrat,
dilarang berpolitik praktis (kalau masih 'berpolitik' di dalam kampus:
dipecat! Di UI seorang Peter
Sumariyoto<http://www.facebook.com/profile.php?id=1809099706> dipecat
kemudian oleh Nugroho Notosusanto, di ITB, beberapa diskorsing a.l.: Aussie
Gautama <http://www.facebook.com/aussie.gautama>(1979), yg diancam pemecatan
a.l. Ibong Sjahroezah
<http://www.facebook.com/profile.php?id=856934381> (1981);
hingga beberapa tahun kemudian, 1989, puluhan mahasiswa dipecat dan
dipenjara a.l.: Fadjroel
Rachman<http://www.facebook.com/profile.php?id=1341211906>
, Bambang Notodarmodjo <http://www.facebook.com/profile.php?id=1417384150>,
dkk). Intinya, mahasiswa diandaikan tengah belajar di kampus (baca: menara
gading). Setelah lulus harus mengisi jaringan teknokrasi sebagai
sekrup-sekrup dari mesin negara untuk mereproduksi sistem kapitalisme.
(2) Ada beberapa problem di dalam tulisannya, yang benar benar sangat
dipengaruhi oleh fenomenologi. Salah satunya adalah dengan membaca segala
sesuatunya dari gejala-gejala perilaku manusia, dan gejala-gejala itu
diperlakukan sebagai sebuah sindroma individu manusia. Dia khawatir apabila
gejala saling caci maki dan saling tak acuh di antara para pemimpin negara
berpengaruh ke masyarakat. Sementara situasinya sudah semakin tidak bisa
membedakan antara mana kawan dan mana lawan menurutnya, sambil mengutip
Baumann yang sebenarnya juga sudah ditegaskan pula oleh Hannah Arendt.
Benarkah situasinya seperti itu? Benar jika dilihat secara fenomena, seperti
pengalaman Heidegger di medan perang, ataupun pengalaman para tentara
Amerika di medan perang Vietnam. Seolah-olah manusia tiap harinya berada di
tubir jurang meniti batas hidup dan mati, sampai yang di jakarta tidak
pernah nongkrong di warung indomi telor. Buruh cuci setrika digambarkan
penuh dengan upaya untuk terus mengasah ketrampilannya mencuci dan menstrika
celana pantalon sampai licin dan tajam sekali lipatannya, sampai lipatan itu
bisa dibuat buat sunat atau potong ayam. Begitu anaknya memasuki usia akil
baliq dan harus disunat ia tidak pergi ke dokter atau ahli sunat, tetapiia
menyunat anaknya sendiri dengan celana pantalon hasil setrikaannya. Hasilnya
infeksi. Dia tidak pergi ke dokter untuk mengobati infeksi anaknya, karena
kalau ke dokter nanti tidak lagi berada di tubir jurang. Eksistensinya
terganggu. Jadi ngapain pula berhumanis humanis ria kalau memang problemnya
hanya untuk kembali ke tubir jurang? Demikianlah oportunisme dari
fenomenologi dan eksistensialisme, seolah olah menghargai sesama tetapi
sebetulnya yang diperjuangkan adalah dirinya sendiri. Sejak awal manusia
sudah dilepaskan dari relasi sosialnya, dan seolah-olah manusia menjadi
humanis kalau sudah terdidik.
Ini bukan rongsokan, tetapi emang jahat
2011/7/18 Sulastama Raharja <rsulastama@gmail.com>
--
Sopril Amir
- Nurcahya Priyonugroho <anung.pnugroho@gmail.com> Jul 19 09:29AM +0700 ^
> Biar gayeng, ini aku kutipkan penilaian dua orang aktivis yang dulu rajin
> demo dan sekarang masih rajin belajar
*** Kenapa yang dipersoalkan adalah "kelakuan" DJ yang terdahulu,
bukan pendapatnya yang sekarang?
SOL
-Anung-
+++
Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
Transfer ke:
1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
+++