Total Tayangan

myspace hit counter

[kagama] Intisari untuk alumniUGM@googlegroups.com - 8 Pesan pada 6 Topik

Minggu, Juli 31, 2011

Grup: http://groups.google.com/group/alumniUGM/topics

 Topik: Limbah
    Akhmad Khusyairi <a.khusyairi@kagamavirtual.org> Jul 31 04:17PM +0700 ^
     
    Rekan Alumni UGM ysh;
    Akhmad Khusyairi dan keluarga juga menghaturkan beribu maaf dan semoga
    kita semua dapat menunaikan ibadah dengan penuh keimanan dan ketaqwaan
    kepada Allah SWT.
     
    --
    Regards,
     
    Akhmad Khusyairi
    www.akhmadkhusyairi.wordpress.com

     

    Febrian Sasi Kirana <febriansasi@gmail.com> Jul 31 12:15AM +0700 ^
     
    Setau saya, T. Mesin perbandingan kompresi cewek dan cowok 1:3
    1 cewek untuk 3 angkatan
     

     

    arianto_rizki@yahoo.com Jul 31 08:26AM ^
     
    Kan keliatan dari singkatan himpunan-nya..
    KMTM = Keluarga Mahasiswa Tanpa Mahasiswi..
     
    hehehehe..
     
    Piss ah :)
     
    Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
     
    -----Original Message-----
    From: Febrian Sasi Kirana <febriansasi@gmail.com>
    Sender: alumniugm@googlegroups.com
    Date: Sun, 31 Jul 2011 00:15:38
    To: <alumniugm@googlegroups.com>
    Reply-To: alumniugm@googlegroups.com
    Subject: Re: [kagama] sikit cerita dari Paksima
     
    Setau saya, T. Mesin perbandingan kompresi cewek dan cowok 1:3
    1 cewek untuk 3 angkatan
     
     
    --
    +++
    Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
    Transfer ke:
    1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
    2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
    +++

     

    umigita@gmail.com Jul 31 09:16AM ^
     
    Ya asal gak maho aja sih...
    Kebalikan ma psiko,satu angkatanku ada 180orang,hanya ada 40orang laki2... Yah satu banding 4 lah...
     
    Salam,
    Umi gita
    Powered by Telkomsel BlackBerry®
     
    -----Original Message-----
    From: arianto_rizki@yahoo.com
    Sender: alumniugm@googlegroups.com
    Date: Sun, 31 Jul 2011 08:26:46
    To: <alumniugm@googlegroups.com>
    Reply-To: alumniugm@googlegroups.com
    Subject: Re: [kagama] sikit cerita dari Paksima
     
    Kan keliatan dari singkatan himpunan-nya..
    KMTM = Keluarga Mahasiswa Tanpa Mahasiswi..
     
    hehehehe..
     
    Piss ah :)
     
    Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
     
    -----Original Message-----
    From: Febrian Sasi Kirana <febriansasi@gmail.com>
    Sender: alumniugm@googlegroups.com
    Date: Sun, 31 Jul 2011 00:15:38
    To: <alumniugm@googlegroups.com>
    Reply-To: alumniugm@googlegroups.com
    Subject: Re: [kagama] sikit cerita dari Paksima
     
    Setau saya, T. Mesin perbandingan kompresi cewek dan cowok 1:3
    1 cewek untuk 3 angkatan
     
    > 2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL ,
    > 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
    > +++
     
    --
    +++
    Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
    Transfer ke:
    1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
    2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
    +++
     
    --
    +++
    Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
    Transfer ke:
    1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
    2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
    +++

     

    "darmaji-gojis" <sudarmaji@kagamavirtual.net> Jul 31 08:58AM ^
     
    Innalilahi wa inna ilahi rojiun
     
    Semoga di ampuni segala kesalahan...amien
     
    darmaji
    --------------------------------
    Sent from GojisBerry
    0815.958.7574

     

    "Ebes Defry" <yusdanial@gmail.com> Jul 31 07:28AM ^
     
    Kalau reksadana, mana yang menguntungkan ?
     
    Untuk pemula, biasanya berapa rupiah yang bisa kita tanamkan untuk investasi di reksadana ?
     
     
     
    http://yusdanial.blogspot.com
     
    -----Original Message-----
    From: "Deny P. Sambodo" <denypurwo@gmail.com>
    Sender: alumniugm@googlegroups.com
    Date: Sun, 31 Jul 2011 06:50:49
    To: <alumniugm@googlegroups.com>
    Reply-To: alumniugm@googlegroups.com
    Subject: Re: [kagama] Kapan Membeli Saham?
     
    Mbak aroem,
     
    Beli produk reksadana saham, mbak. Reksadana cocok buat kita2 yg tdk mau terlalu pusing dengan proses perdagangan saham lewat bursa.
    produk2nya panin sekurities cukup bagus kinerjanya. Kalo mau beli online bisa juga beli di danareksa online.
     
    Salam,
     
    Deny
     
    Nb.
     
    Komo, dirimu main saham ya?
     
    Powered by Telkomsel BlackBerry®
     
    -----Original Message-----
    From: aroem.naroeni@kagamavirtual.com
    Sender: alumniugm@googlegroups.com
    Date: Sun, 31 Jul 2011 05:15:33
    To: <alumniugm@googlegroups.com>
    Reply-To: alumniugm@googlegroups.com
    Subject: Re: [kagama] Kapan Membeli Saham?
     
    Waaa.. Mas Komo, kalau kita tidak terlalu cerdas untuk memahaminya apa diserahkan manager investasi aja apa ?
    Banyak yg nawarin.. Katanya klo mereka mau melakukan sesuatu membeli/menjual minta ijin ke kita ?
     
    Salam
    Aroem
     
     
    Powered by Telkomsel BlackBerry®
     
    -----Original Message-----
    From: Sulastama Raharja <rsulastama@gmail.com>
    Sender: alumniugm@googlegroups.com
    Date: Sun, 31 Jul 2011 11:46:20
    To: alumniUGM<alumniUGM@googlegroups.com>
    Reply-To: alumniugm@googlegroups.com
    Subject: [kagama] Kapan Membeli Saham?
     
    Kapan Membeli Saham?
     
    *Elvyn G Masassya*
     
    Menjual saham juga bisa dilakukan untuk mencegah kerugian yang lebih dalam
    karena harga saham tidak kunjung naik, berada di bawah harga beli, atau
    malah terus merosot. Nah, dalam situasi seperti itu, investor mesti
    mengambil keputusan apakah saham yang telah dimiliki sebaiknya dijual atau
    dipegang terus.
     
    Kita akan membahas kapan waktu yang tepat untuk membeli saham. Membeli saham
    di sini bukan semata-mata terhadap saham yang belum dimiliki, tetapi juga
    bisa dengan maksud untuk menambah jumlah saham yang telah dimiliki.
     
    Jika Anda sudah memiliki saham A, dan harganya ternyata naik terus, Anda
    bisa saja bukan menjual saham yang telah Anda miliki, tetapi malah menambah
    jumlah saham tersebut. Jadi, pada gilirannya nanti, ketika harga sudah tidak
    meningkat dan Anda bermaksud menjualnya, nilai penjualan saham Anda akan
    lebih besar. Itu disebut dengan istilah averaging up.
     
    Demikian juga jika saat ini Anda memegang saham yang harga di pasarnya jauh
    di bawah harga beli. Jika Anda yakin saham tersebut akan meningkat, saat ini
    Anda mesti membeli lagi saham yang sama dalam jumlah cukup besar sehingga
    rata-rata harga beli saham tersebut akan lebih rendah. Ini akan memudahkan
    Anda untuk melepasnya karena tidak perlu menunggu kenaikan harga yang
    tinggi. Sebab, harga beli rata-rata Anda sudah lebih rendah ketimbang
    pertama kali Anda beli. Ini diistilahkan dengan averaging down.
     
    Kapan waktu yang pas untuk membeli saham-saham tersebut? Secara konseptual,
    pembelian saham dilakukan ketika harga saham masih murah dan dijual ketika
    harganya meningkat. Ini basic sekali. Disebut juga dengan istilah buy low,
    sell high.
     
    Kapan sebuah saham dianggap murah?
     
    Banyak cara untuk mengetahuinya, misalnya dengan melihat berapa price to
    book value (PBV) atau price earning ratio (PER) dari sebuah saham. Jika PBV
    dan PER-nya relatif rendah dibandingkan dengan perusahaan sejenis, saham
    tersebut dianggap murah. Namun, apakah lantas bisa langsung dibeli? Bisa
    jadi setelah Anda beli, harganya tetap segitu-gitu saja. Kenapa? Karena
    kinerja perusahaannya memang jelek dan tetap jelek. Jadi, mana mungkin harga
    sahamnya akan meningkat?
     
    Selain itu, ada juga konsep yang disebut dengan buy high, sell higher.
    Artinya, Anda membeli saham yang harganya sudah tinggi, baik dilihat dari
    PBV maupun PER-nya. Namun, bisa saja tetap mengalami peningkatan, baik
    karena kinerja perusahaan yang terus meningkat maupun karena investor lain
    juga berminat untuk mengoleksi saham tersebut.
     
    *Menghindari kerugian*
     
    Masalahnya, berapa jauh satu saham bisa terus "terbang tinggi"? Katakanlah
    saham A, harganya Rp 1.000, lalu meningkat menjadi Rp 1.100. Lalu, Anda beli
    pada harga Rp 1.100 dengan harapan akan naik lagi menjadi Rp 1.200. Apakah
    memang seperti itu? Bisa terjadi, bisa juga malah sebaliknya. Setelah
    mencapai harga Rp 1.100, Anda membeli dari investor lain yang menjual, dan
    pada gilirannya, harga saham akan kembali ke Rp 1.000. Maka, yang Anda
    peroleh adalah potensi kerugian. Bagaimana cara menghindari semua itu?
     
    Pertama, siapkan sekeranjang saham pilihan yang secara fundamental bagus.
    Ini biasanya disebut saham blue chip atau saham yang masuk dalam kategori LQ
    45. Anda mesti melakukan diversifikasi sektor dari saham yang ada di
    keranjang tersebut. Untuk memilih calon-calon saham yang hendak dibeli, Anda
    bisa menggunakan hasil analisis berbagai perusahaan sekuritas. Selain itu,
    saham-saham rekomendasi juga banyak tertera di surat kabar dan internet.
     
    Kedua, memilih dari isi keranjang, saham yang siap untuk dibeli. Saham-saham
    yang sudah masuk dalam keranjang tentu harus Anda analisis dari beberapa
    hal, misalnya berapa volume transaksinya secara harian dalam beberapa pekan
    atau bulan terakhir. Percuma harga saham itu murah kalau volume transaksinya
    rendah. Sebab, ketika Anda beli, akan sulit untuk menjualnya kembali. Untuk
    melihat volume transaksi tersebut, bandingkan saja nilai jual-belinya dengan
    saham-saham lain yang ada dalam keranjang pilihan saham Anda.
     
    Intinya, pertimbangkan hanya saham yang volume transaksinya besar. Jadi,
    kalau di keranjang tersebut ada 10 saham, setelah diseleksi aspek volume
    transaksinya, mungkin hanya tersisa lima saham yang layak beli. Sebagai
    investor ritel, memang sebaiknya jangan mengelola terlalu banyak saham. Lima
    saham sudah cukup asalkan kemudian secara rutin Anda mempelajari dan
    mengenali saham-saham tersebut secara lebih dalam.
     
    Ketiga, kapan mulai membeli saham-saham tersebut? Secara umum saham-saham
    yang memiliki fundamen bagus dan volume transaksi besar bisa dibeli ketika
    harga sahamnya mengalami koreksi. Akan tetapi, koreksi tersebut lebih
    disebabkan oleh faktor sentimen pasar, bukan karena fundamen yang anjlok.
    Apalagi kalau tujuan Anda membeli saham dimaksud adalah untuk jangka cukup
    panjang, apakah itu dipegang dalam kurun waktu enam bulan, setahun, dan
    seterusnya. Jadi, bukan untuk perdagangan harian. Makna koreksi di sini
    lebih karena sentimen terhadap keseluruhan pasar memang sedang negatif, yang
    dicerminkan oleh penurunan indeks harga saham gabungan. Dengan kata lain,
    yang mengalami penurunan harga bukan cuma saham yang Anda bidik, tetapi juga
    saham-saham lain.
    Keberhasilan membeli saham juga dipengaruhi oleh faktor lain, seperti
    informasi dan timing. Di pasar modal, biasanya awal semester adalah saat
    yang ramai untuk transaksi. Kenapa? Karena emiten-emiten baru melaporkan
    kinerja semester pertama. Jika kinerjanya bagus, sahamnya pasti akan diburu
    investor. Jika Anda mengetahui informasi semacam itu, tentu Anda bisa turut
    serta mengoleksi saham-saham dengan kinerja bagus.
     
    http://cetak.kompas.com/read/2011/07/31/03053136/kapan.membeli.saham--
    tomo TGL' 93
    ~ KagamaVirtual is here, there, everywhere, anywhere ... For everyone" :) ..
    http://kagamavirtual.com/ ~
     
    --
    +++
    Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
    Transfer ke:
    1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
    2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
    +++
     
    --
    +++
    Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
    Transfer ke:
    1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
    2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
    +++
     
    --
    +++
    Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
    Transfer ke:
    1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
    2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
    +++

     

    Rovicky Dwi Putrohari <rovicky@gmail.com> Jul 31 09:44AM +0700 ^
     
    Gerakan Kembali Ke Desa, Masih Sulitkah
    ?OPINI<http://www.kompasiana.com/posts/type/opinion/> |
    31 July 2011 | 08:45Ahmad Irfan <http://www.kompasiana.com/ahmadirfan>
     
    [image: lombokjalanjalan.com]
     
    lombokjalanjalan.com
     
     
    Jumat kemarin, ada satu topik menarik yang saya dan teman-teman MAKES
    (Sebuah Lembaga Kajian Berbahasa Inggris di Masjid Al Markaz Al Islami
    Makassar) diskusikan yakni "Rural Development : a Way to Achieve National
    Welfare". Kurang lebih intinya adalah bahwa untuk mencapai kesejahteraan
    nasional, maka salah satu jalan yang bisa ditempuh adalah dengan pembangunan
    pedesaan. Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa Indonesia adalah negara
    agraris, disebutkan bahwa 2/3 penduduk Indonesia hidup dipedesaan dan
    berprofesi sebagai petani.
     
    Berdasarkan data Serikat petani Indonesia (spi.or.id), jumlah petani di
    Indonesia saat ini mencapai sekitar 25 juta keluarga. Dari jumlah tersebut,
    13 juta keluarga merupakan petani gurem atau petani kecil. Menurut data
    terbaru BPS (bps.go.id), di Indonesia setidaknya terdapat rumah tangga
    petani sejumlah 17.830.832. Di tingkat nasional, jumlah petani dibagi
    menjadi: petani padi sebesar 14.992.137, jagung 6.714.695, kedelai 1.164.477
    dan tebu 195.459.
     
    Berbicara tentang desa, maka tidak akan lepas dari bidang Pertanian. Karena
    pekerjaan utama orang-orang di desa adalah bertani. Pertanian yang saya
    maksud disini adalah pertanian dalam pengertian yang luas mencakup semua
    kegiatan yang melibatkan pemanfaatan makhluk hidup (termasuk tanaman, hewan,
    dan mikrobia) untuk kepentingan manusia.
     
    Beberapa tahun terakhir ini, mungkin kita pernah mendengar Gerakan Kembali
    Ke Desa (GKD). Gerakan ini begitu giat di wacanakan di kota-kota besar di
    Indonesia. Sebagai orang desa, saya sangat menyambut baik gerakan ini. Jika
    tak salah, mantan bupati Jawa Timur Basofi Sudirman adalah salah satu sosok
    yang mencanangkan ide ini. Ada beberapa alasan mengapa masyarakat kota perlu
    dirangsang untuk hijrah ke desa, beberapa di antaranya :
     
    - Tingkat kriminalitas di desa lebih sedikit dibandingkan di kota
    - Tingkat polusi di desa lebih sedikit dibanding di kota
    - Jika pindah ke desa, akan memudahkan pemerataan penduduk
    - Secara umum, kenyamanan hidup dan lingkungan di desa lebih baik daripada
    di kota
    - Dengan pindah ke desa, maka akan meningkatkan pembangunan pedesaan.
     
    Beberapa alasan diatas sangat masuk akal, namun pada faktanya masih sulit
    untuk membuat penduduk yang sudah menetap di kota untuk pulang atau hijrah
    ke desa. Beberapa kendalanya antara lain :
    - Sarana dan prasarana (utamanya pendidikan) di desa masih kurang memadai
    dibanding di kota (kesenjangan infrastruktur)
    - Gaya hidup masyarakat kota yang serba mudah dan praktis akan menyulitkan
    jika hidup di desa
    - Lapangan pekerjaan masih sempit dan sedikit. dll.
     
    Alih-alih mengajak warga kota ke desa, yang terjadi selama ini malah
    sebaliknya. Urbanisasi hingga saat ini masih terjadi. Tidak dipungkiri,
    karena faktor-faktor diatas tadi. Sarana pendidikan dan lapangan pekerjaan
    di kota masih sangat menjanjikan. Maka dari itu, putera-putera daerah
    (termasuk saya…hehehe) setelah lulus SMP atau SMA, akan migrasi ke ibu kota
    untuk melanjutkan pendidikan. Begitupun setelah selesai pendidikan dan
    kemudian bekerja, masih tetap tinggal dikota. Kenapa ? karena jika pulang ke
    desa, mau bikin apa ? bertani ?…
     
    Ada banyak-bahkan menurut teman saya rata-rata- anak dari desa itu
    pintar-pintar dibangku sekolah/kuliah bahkan kadang-kadang lebih pintar
    daripada anak-anak kota. Jadi sebenarnya anak-anak dari desa itu tidak ada
    bodoh atau terbelakang dari segi pendidikan apalagi jika melanjutkan
    pendidikan di kota, hanya yang kurang dalam diri anak-anak desa itu
    (menunjuk diri sendiri..hehehe) adalah semangat untuk pulang ke desa dan
    membangun desanya. Kebanyakan jika sudah lulus hanya memikirkan karir dan
    masa depan sendiri, sangat kurang yang memiliki kesadaran untuk mengabdi
    kepada kampung halaman atau bercita-cita menjadi
    petani<http://ekonomi.kompasiana.com/agrobisnis/2011/07/24/tidak-ada-lagi-yang-bercita-cita-menjadi-petani/>.
    Selain dari kesadaran pribadi dan beberapa alasan diatas, faktor kurangnya
    support atau bantuan dari pemda setempat (misalnya beasiswa) menjadi alasan
    mengapa banyak putera-putera daerah *ogah*pulang kampung. Menulis tentang
    hal ini, saya jadi teringat dengan kisah mantan Presiden B.J. Habibie yang
    disekolahkan ke luar negeri oleh Presiden Sukarno waktu itu. Disaat pak
    Habibie lagi diatas puncak prestasinya diluar negeri, dan tiba-tiba ia
    dipanggil untuk pulkam membangun Indonesia. Tanpa pikir panjang, pak Habibie
    langsung pulang ke Indonesia, padahal kalau mau, pak. Habibie bisa saja
    menolak. Tapi karena panggilan itu adalah panggilan Ibu Pertiwi, maka tidak
    ada alasan bagi beliau untuk menolak.
     
    Kembali kepersoalan masyarakat desa. Saya sebenarnya khawatir dengan kondisi
    pedesaan kita saat ini, karena rata-rata petani yang masih setia dan tinggal
    didesa adalah petani-petani yang masih rendah taraf pendidikannya. Petani
    kita kebanyakan hanyalah lulusan SD atau hanya sampai SMP bahkan ada yang
    belum pernah sekolah sama sekali. Sebenarnya sudah banyak program dan
    penyuluhan yang diberikan kepada masyarakat dipedasaan dalam rangka menambah
    wawasan dan *skill *petani dalam bercocok tanam, beternak, bertambak dan
    lain-lain. Namun tetap saja dengan kondisi seperti itu tidak menjanjikan
    terjadinya peningkatan produktifitas pertanian didesa. Yang saya pikirkan
    saat ini, bagaimana seandainya petani-petani tersebut telah lanjut usia atau
    meninggal ? siapa lagi yang kiranya akan melanjutkan untuk menggarap sawah
    dan kebun yang mereka miliki ? Untung jika masih punya anak yang masih mau
    tinggal ? tapi jika anak-anaknya semua melanjutkan pendidikan dan bekerja di
    kota ? lantas siapa lagi yang menjadi petani ?
     
    Memikirkan tentang pembangunan desa, tentunya menjadi tanggung jawab bersama
    seluruh elemen masyarakat. Mulai dari pemerintah yang membangun
    infrastruktur dipedesaan, perluasan bidang usaha dipedasaan (jadi tidak
    hanya berkutat dipertanian), pembangunan kesadaran putra-putri daerah agar
    membangun desanya, begitupun dengan Gerakan Kembali ke Desa yang harus
    senantiasa digalakkan.
     
    Jadi, jika ada yang bertanya kepada saya, mau tidak kembali kedesa ? jawaban
    saya tentu saja mau. Sudah punya niat dan planning…tinggal masalah waktu
    bagi saya untuk pulkam ! :D
     
    http://ekonomi.kompasiana.com/agrobisnis/2011/07/31/gerakan-kembali-ke-desa-masih-sulitkah/
    --
    *"Everybody is safety leader, You can stop any unsafe operation !"*

     

    Rovicky Dwi Putrohari <rovicky@gmail.com> Jul 31 09:06AM +0700 ^
     
    Print<http://www1.kompas.com/printnews/xml/2011/07/31/08544318/Uang.Habis.Kami.Kerja.Lagi>
    Send<http://www1.kompas.com/printnews/xml/2011/07/31/08544318/Uang.Habis.Kami.Kerja.Lagi>
    Close<http://www1.kompas.com/printnews/xml/2011/07/31/08544318/Uang.Habis.Kami.Kerja.Lagi>
    Uang Habis, Kami Kerja Lagi
    KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO<http://www1.kompas.com/printnews/xml/2011/07/31/08544318/Uang.Habis.Kami.Kerja.Lagi#>
    Rahmat (33) menunggu konsumen dari kalangan tenaga kerja Indonesia atau
    keluarganya yang ingin menukarkan mata uang asing di Desa Rancasari,
    Kecamatan Pamanukan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Rabu (27/7).
    Minggu, 31 Juli 2011 | 08:54 WIB
    Budi Suwarna & Siwi Yunita
     
    *KOMPAS.com* - Pulang dari luar negeri, para tenaga kerja Indonesia membawa
    "peradaban" baru. Mereka membangun rumah mentereng lengkap dengan toilet
    duduk, "shower", dan dapur bersih. Dengan cara itu, kisah sukses di tanah
    seberang ditegaskan.
     
    Desa Sidamulya terasa seperti ada di "ujung dunia". Dari jalur pantura,
    perjalanan masih tersisa sekitar 18 kilometer melalui jalan desa yang
    sempit, berlubang, berbatu, dan berdebu. Di desa yang masuk Kecamatan
    Bongas, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, itu aroma kemiskinan tercium
    bersama aroma kesejahteraan. Rumah mentereng bersanding dengan rumah gubuk
    yang hampir roboh.
     
    Rumah-rumah mentereng yang ada di desa itu hampir pasti dibangun para TKI.
    Ciri utamanya antara lain dinding depan rumah dan lantai dilapisi keramik
    warna ngejreng, mencolok. "Kami meniru rumah-rumah majikan di Arab yang
    dindingnya berlapis marmer," ujar Sanusi, warga Sidamulya yang pernah
    bekerja di Arab Saudi dan Taiwan.
     
    Sanusi dan istrinya—yang juga mantan TKI—tinggal di sebuah rumah dengan
    dinding berlapis keramik warna merah muda. Lokasinya di depan sawah,
    berseberangan dengan pemakaman keramat.
     
    Rumah Dariah tidak berdinding keramik. Namun, rumah itu tidak kalah
    mentereng dibandingkan dengan rumah milik TKI lainnya. Rumah tersebut
    dilengkapi kamar mandi modern lengkap dengan keramik dinding dan toilet
    duduk. Rencananya TKI yang bekerja di Taiwan itu akan memasang shower, alias
    keran semprot, agar dia bisa mandi di bawah guyuran air sambil bernyanyi
    seperti iklan sabun mandi di televisi.....
     
    Selengkapnya, baca *Harian Kompas*<http://epaper.kompas.com/epaperkompas.php>,
    31 Juli.
     
    **
     
    *Dapatkan artikel ini di URL:*
    http://www.kompas.com/read/xml/2011/07/31/08544318/Uang.Habis.Kami.Kerja.Lagi
     
    --
    "Everybody is safety leader, You can stop any unsafe operation !"

     

--
+++
Mari menjadi donatur beasiswa KAGAMA Dengan DONASI RP.50.000,-/bulan.
Transfer ke:
1. Rekening BCA, Eko Sutrisno Hadi Purnomo Ir – BCA 5530247734 – KCP Otista
2. Rekening Mandiri, SULASTAMA RAHARJA S.T. . KAGAMA VIRTUAL , 108-00-1124743-5, Bank MANDIRI Cabang Duri CALTEX
+++
Loading...